Friday, July 30, 2004
Dalam diam selalu kuterjebak pada satu essay yang merambati sel otak hingga ke buluh nadi beberapa diantaranya mengakar jadi insomnia bahkan lembar tragedi yang terus mengikuti…(yang kadang ingin kuulangi sekaligus ingin kuhabisi…) sebagian lain menguap… membumbung jauh dan tersimpan di ribuan galaksi, seperti folder dalam sebuah PC dibagi menjadi beberapa sub folder yang tersusun rapi, beberapa perlu disimpan dengan password khusus agar para hacker tak mudah merayapi jaringan ini, harusnya nurani lebih berkuasa dibandingkan ego yang terus menggila…God damn… ini gila… ga waras… sakit… kronis jika dibiarkan berlarut-larut…
Perlu penanganan para ahli untuk merunutkan benang merah yang berbelit kusut meluruskan daya angan agar dikaji lagi lebih lanjut…
aku berseru…
mengharapkan dimensi baru...
kertas baru…
tinta baru untuk menulis semuanya…
terlanjur aku menuliskan semua ini di angkasa…
tapi tak apalah… selama ia merebahkan tubuhnya disana, selama ia masih menangisi bumi…asalkan ia tak runtuh terbebani segala kesah yang kutulis disana…
hhh… kalau saja ia bisa bicara… mungkin ia kan menyatakan…
"Hey... Wake up man... hidup harusnya loe nikmati aja, 'ga perlu lah loe bebani pikiran loe dengan masalah yang sama, addictive ama beban loe sendiri... Gw cuma sedikit simpati karena gw harus berbagi ama yang lain... bukan cuma dengerin keluhan loe doang...!!!"
atau
"Shit…. Emangnya gw Recycle Bin, tempat lw buang hajat…??? Stupid... Juellek... Wong guendheng...!!!"
Bahkan langit pun terkesan tak acuh, ia terlalu kebal untuk menyimak kidung yang kulantunkan setiap malam, aku pun berbasa-basi agar tak lagi dimaki…
lalu harus kutulis dimana semua gubahan ini… di radio ataukah televisi…? sepertinya hanya tayangan basi yang dipadati serangkaian comercial-the hell-break… tak ada yang lebih penting dari kumandang adzan maghrib… itupun tak lebih dari 5 menit.
[Maksudnya apa ya… kok gw bisa nulis kayak gini…. Wong gendheng…, Egois...!!!"]
280604
[dunia_kecil] ini di-up date setiap hari... so...
ga perlu ragu kunjungi blog ini... hari ini...
besok... dan lusa....
"Selamat Menikmati"
jangan lupa isi comment dan masukan
tulisan apa aja yg layak tampil di blog ini...

kebingungan adalah awal dari pengetahuan... itu kata eyang Kahlil Gibran...
Sang langit baru saja menyibakkan tirai hitamnya, tak lama berganti kerudung keemasan yang ia pikir tepat untuk dikenakan hari ini.
Dipersimpangan jalan si buta papah diujung tongkatnya,
menyeka wajahnya dengan ribuan titik embun yang melayang riang menyambut mentari,
berharap mimpinya semalam tentang bintang jatuh benar-benar akan jatuh kedalam hatinya,
mungkin pagi ini…
siang ini…
malam ini…
atau malam-malam di esok harinya…
Setidaknya ia masih bisa menanti sesuatu kan datang padanya,
mungkin ribuan tanda tanya kan membawanya pergi menuju bunga tidur kehidupan dimana tak lagi ada pertanyaan,
yang ada hanyalah rangkaian asa yang bertambah satu-satu
dimana tiba waktunya kan menyala menerangi hatinya
dan melelehkan sebagian penat dihatinya.
Saat ia mulai melangkah, ia bertanya pada jarum kompas kehidupannya
“Kemana arah kan memanduku ?”
“Ke belahan bumi yang kau pijak” jawabnya tak acuh.
“Sementara aku tak bisa melihat… bagaimana caranya agar aku bisa melihat ?” tanyanya lagi.
“Yakinkan arahmu” jawab sang kompas berlalu.
Kali ini ia merasa diabaikan dengan pertanyaan yang ia ajukan tak mendapat jawaban yang berkenan. Ia membisu… berpikir… sepertinya jarum kompas terlalu kaku untuknya.
Ia kembali membisu dan melangkah lagi meninggalkan jejak pertanyaan, teringat akan sang waktu yang ia kenakan di tangan kanannya, ia tak bisa membaca angkanya hanya saja ia bisa merasakan putaran detiknya…. Tik… tik… tik… Serta merta ia bertanya…
“Hey… sang waktu dimana kau sembunyikan wajahmu ? aku ingin bertanya kenapa aku tak dapat melihat ? bahkan menangis pun aku tak bisa ? bagaimana caranya agar aku bisa melihat ?” rangkaian tanya dalam satu tarikan nafas
“Gunakan kesempatan yang ada” jawab sang waktu
“Maksudmu… ?”
“Detik-detik yang kau lalui tak lagi kembali, karena aku kan terus melaju… jangan sia-siakan waktumu…”
“Maksudmu…?”
“Sudahlah… aku terlalu sibuk untuk mengatur putaran waktu agar detiknya berjumlah sama” sang waktu beranjak dengan bengisnya, maninggalkan pertanyaan yang makin meradang… kronis jika dibiarkan.
Ia melangkah… berpikir…
Di palung hatinya ada ribuan tanya
Dipersimpangan jalan si buta papah diujung tongkatnya,
menyeka wajahnya dengan ribuan titik embun yang melayang riang menyambut mentari,
berharap mimpinya semalam tentang bintang jatuh benar-benar akan jatuh kedalam hatinya,
mungkin pagi ini…
siang ini…
malam ini…
atau malam-malam di esok harinya…
Setidaknya ia masih bisa menanti sesuatu kan datang padanya,
mungkin ribuan tanda tanya kan membawanya pergi menuju bunga tidur kehidupan dimana tak lagi ada pertanyaan,
yang ada hanyalah rangkaian asa yang bertambah satu-satu
dimana tiba waktunya kan menyala menerangi hatinya
dan melelehkan sebagian penat dihatinya.
Saat ia mulai melangkah, ia bertanya pada jarum kompas kehidupannya
“Kemana arah kan memanduku ?”
“Ke belahan bumi yang kau pijak” jawabnya tak acuh.
“Sementara aku tak bisa melihat… bagaimana caranya agar aku bisa melihat ?” tanyanya lagi.
“Yakinkan arahmu” jawab sang kompas berlalu.
Kali ini ia merasa diabaikan dengan pertanyaan yang ia ajukan tak mendapat jawaban yang berkenan. Ia membisu… berpikir… sepertinya jarum kompas terlalu kaku untuknya.
Ia kembali membisu dan melangkah lagi meninggalkan jejak pertanyaan, teringat akan sang waktu yang ia kenakan di tangan kanannya, ia tak bisa membaca angkanya hanya saja ia bisa merasakan putaran detiknya…. Tik… tik… tik… Serta merta ia bertanya…
“Hey… sang waktu dimana kau sembunyikan wajahmu ? aku ingin bertanya kenapa aku tak dapat melihat ? bahkan menangis pun aku tak bisa ? bagaimana caranya agar aku bisa melihat ?” rangkaian tanya dalam satu tarikan nafas
“Gunakan kesempatan yang ada” jawab sang waktu
“Maksudmu… ?”
“Detik-detik yang kau lalui tak lagi kembali, karena aku kan terus melaju… jangan sia-siakan waktumu…”
“Maksudmu…?”
“Sudahlah… aku terlalu sibuk untuk mengatur putaran waktu agar detiknya berjumlah sama” sang waktu beranjak dengan bengisnya, maninggalkan pertanyaan yang makin meradang… kronis jika dibiarkan.
Ia melangkah… berpikir…
Di palung hatinya ada ribuan tanya
yang ia sendiri tak tahu harus bertanya kepada siapa
ketika buih ombak baru saja meninggalkan pantai,
ombak lain datang menelanjangi pasirnya…
sesungguhnya ia tak mau bertanya-tanya lagi…
inginnya malam yang buta diterangi oleh sinar rembulan,
dihiasi barisan bintang berekor,
dan berharap salah satu di ufuk sana kan jatuh kedalam hatinya.
Perangai hari merona dipipinya… lelah sudah usahanya siang ini… setiap pertanyaan yang ia tebar, pertanyaan lain yang ia tuai… lelah bertanya pada ranting kering, tak gentar ia bertanya pada sekawanan serangga yang bernyanyi dalam raiuhnya pesta kebun… tapi yang ia dapati hanyalah kerumunan bingar memenuhi sarafnya.
Lalu ia pun bertanya pada seonggok mahluk -yang terbaca oleh tongkatnya- berkaki empat dengan deru nafas memburu, jawabnya hanyalah jilatan disela gonggongannya, ia pun kembali melangkah tanpa tahu kemana arahnya dan berjumpa dengan sekelompok manusia yang baru-baru ini ia ketahui dengan sebutan massa, ia pikir kali ini ia pasti akan berhasil mendapat jawaban atas segala pertanyaan tentang dirinya, baru saja ia membuka diri dengan segala ketaksempurnaannya, ia mendapat sambutan berupa senyuman sinis, cacian, hinaan, bahkan hujatan dari setiap rutinitas yang mereka atur sendiri dengan mulut lebar mereka dan lidah yang bercabang layaknya mahluk berdarah dingin yang siap menerkam mangsanya…
Jika mereka mengaku manusia, mengapa mereka tak lagi menggunakan hati, merengkuh manusia lain dengan tangan halusnya… berbicara penuh cinta laksana saudara yang baru datang dari seberang.
Sejauh ini ia tak dapat menjabarkan setiap langkahnya…
ia menjelma menjadi batu
dengan kepalan tangan menyangga kepalanya yang berat…
Akankah perjalanan ini bermakna atau kan sia-sia belaka…?
Ia terbenam dipelukan senja…
merasakan jiwanya melayang
menembus segala ketakberdayaannya.
Hinggaplah ia di awal skenario kelahiran dirinya…
Menangis…
Berlari…
Teringat kembali saat ia mencari Tuhan jauh dikedalaman hatinya…
Saat itu mata hatinya masih bisa melihat keindahan taman firdaus…
Kala magrib tiba cahaya kecil berpendar setia menyinari kaligrafi yang ia lafazkan terbata, menerjemahkan makna atas segalanya… tentang kehidupan sekaligus kematian yang benar-benar hidup dan damai… ruang hatinya dipenuhi dengan seribu bunga… harumnya adalah terapi jiwa… kekasih-kekasih hatinya datang dan pergi menghibur dalam kemesraan yang tulus tanpa sedikit pun sandiwara dari setiap babak yang ia lakoni.
Sarat akan tanya…
Siapakah penulis skenario ini…?
Mengapa ia mendapatkan peran seperti ini…?
Akankah berlanjut kisahnya bila perannya telah usai…?
Apakah berakhirnya kisah ini adalah awal dari kisah kehidupan selanjutnya…?
Tak terhitung pertanyaan yang serupa tapi tak sama memenuhi halaman pikirannya bahkan setiap lembarnya terlihat coretan-coretan menandakan keresahan yang belum berakhir…
Mungkin tak pernah usai…
(Sebuah catatan tua yang kutemukan di Recycle Bin “Memang bukan untuk siapa-siapa”)
©230902
ketika buih ombak baru saja meninggalkan pantai,
ombak lain datang menelanjangi pasirnya…
sesungguhnya ia tak mau bertanya-tanya lagi…
inginnya malam yang buta diterangi oleh sinar rembulan,
dihiasi barisan bintang berekor,
dan berharap salah satu di ufuk sana kan jatuh kedalam hatinya.
Perangai hari merona dipipinya… lelah sudah usahanya siang ini… setiap pertanyaan yang ia tebar, pertanyaan lain yang ia tuai… lelah bertanya pada ranting kering, tak gentar ia bertanya pada sekawanan serangga yang bernyanyi dalam raiuhnya pesta kebun… tapi yang ia dapati hanyalah kerumunan bingar memenuhi sarafnya.
Lalu ia pun bertanya pada seonggok mahluk -yang terbaca oleh tongkatnya- berkaki empat dengan deru nafas memburu, jawabnya hanyalah jilatan disela gonggongannya, ia pun kembali melangkah tanpa tahu kemana arahnya dan berjumpa dengan sekelompok manusia yang baru-baru ini ia ketahui dengan sebutan massa, ia pikir kali ini ia pasti akan berhasil mendapat jawaban atas segala pertanyaan tentang dirinya, baru saja ia membuka diri dengan segala ketaksempurnaannya, ia mendapat sambutan berupa senyuman sinis, cacian, hinaan, bahkan hujatan dari setiap rutinitas yang mereka atur sendiri dengan mulut lebar mereka dan lidah yang bercabang layaknya mahluk berdarah dingin yang siap menerkam mangsanya…
Jika mereka mengaku manusia, mengapa mereka tak lagi menggunakan hati, merengkuh manusia lain dengan tangan halusnya… berbicara penuh cinta laksana saudara yang baru datang dari seberang.
Sejauh ini ia tak dapat menjabarkan setiap langkahnya…
ia menjelma menjadi batu
dengan kepalan tangan menyangga kepalanya yang berat…
Akankah perjalanan ini bermakna atau kan sia-sia belaka…?
Ia terbenam dipelukan senja…
merasakan jiwanya melayang
menembus segala ketakberdayaannya.
Hinggaplah ia di awal skenario kelahiran dirinya…
Menangis…
Berlari…
Teringat kembali saat ia mencari Tuhan jauh dikedalaman hatinya…
Saat itu mata hatinya masih bisa melihat keindahan taman firdaus…
Kala magrib tiba cahaya kecil berpendar setia menyinari kaligrafi yang ia lafazkan terbata, menerjemahkan makna atas segalanya… tentang kehidupan sekaligus kematian yang benar-benar hidup dan damai… ruang hatinya dipenuhi dengan seribu bunga… harumnya adalah terapi jiwa… kekasih-kekasih hatinya datang dan pergi menghibur dalam kemesraan yang tulus tanpa sedikit pun sandiwara dari setiap babak yang ia lakoni.
Sarat akan tanya…
Siapakah penulis skenario ini…?
Mengapa ia mendapatkan peran seperti ini…?
Akankah berlanjut kisahnya bila perannya telah usai…?
Apakah berakhirnya kisah ini adalah awal dari kisah kehidupan selanjutnya…?
Tak terhitung pertanyaan yang serupa tapi tak sama memenuhi halaman pikirannya bahkan setiap lembarnya terlihat coretan-coretan menandakan keresahan yang belum berakhir…
Mungkin tak pernah usai…
(Sebuah catatan tua yang kutemukan di Recycle Bin “Memang bukan untuk siapa-siapa”)
©230902
Thursday, July 29, 2004

ruang imaginasi terbentur satu dimensi... sebuah kontradiksi yang justru membuatku makin terarah...
untuk menikmati hidup dibutuhkan kepercayaan diri dan konsentrasi yang tinggi...

saatnya melayang... tak perlu lagi takut untuk menjadi diri sendiri
Wednesday, July 28, 2004
Kisah sejati ini hanyalah bait pembuka bagi kehidupan yang tak kumengerti, awal dari berbagai kemungkinan menapaki senja yang kerap menggerogoti.Aku…
[haruskah aku mengakui, memanggil diriku dengan sapaan 'aku'?]
Aku adalah satu karakter, satu pribadi, satu yang tak begitu ingin kumiliki, bahkan aku tak kenal lebih jauh diriku yang sebenarnya… selalu sarat perselisihan dan kontradiksi didalamnya
akupun tak mengerti…
aku tak begitu menyukai apapun yang ada dalam diriku…
Seperti mengoyak norma dan dinding peradaban, aku menjejakkan diri pada semesta maha luas… pada hidup yang terkatung untuk meregangkan naluri dan sikap menjadi diri sendiri… aku adalah penentu bagi arah mata anginku… karena aku adalah seorang pribadi… meskipun ragu… hati tak bisa mengingkari, ia bekerja tak kenal waktu, tak pernah mencaci, sangat manusiawi dan selalu berkata jujur.
Adakalanya keraguan justru membuat hati menangis… merasa teriris hanya untuk sekedar menyadari atau menanggapi kenyataan yang ternyata jauh dari samudra angan.
Pernah satu waktu aku berlari… tak peduli pada hati… merasa benci… memaki… karena aku tak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup ini… seolah tak ada arti…
aku menangisi batu nisanku… karena menganggap diri tlah mati… bukan hanya ragaku…
jiwaku tlah mati, dan tak seorangpun peduli…
Melanjutkan sisa nafasku, aku jauh lebih banyak membisu karena kupikir lebih baik bagiku…aku melibatkan diri pada jadwal yang kuatur sendiri, sedikitnya memberikan angin bagi nafasku yang tak seberapa ini… aku bernafas kembali… tapi nadiku masih terasa lemah, ternyata kesibukan adalah salah satu terapi untuk bisa bertahan hidup, terasa beban yang ada menguap ke angkasa, meski kenyataannya aku berbohong pada diri sendiri dan tetap membisu…
Pada saat-saat tertentu kembali aku terpasung pada penghayatan satu dimensi itu… aku rindu… syarafku dipenuhi oleh kerinduan untuk menjadi diri sendiri setelah lama aku mengubur diri, dilain sisi aku menolak dan menganggap ini sebentuk dosa…
aku terdiam…
Antara melayang dan tenggelam…
Antara menguasai dan melepaskan…
Antara keragu-raguan menyatakan iya dan tidak…
dan aku tak tahu seberapa hebat dampak dari semua ini… aku tak yakin pada diri sendiri.
aku mencuri-curi sedikit untuk mereguk hasrat dari setiap rinduku… rindu untuk bersikap semanusia mungkin
membebaskan pikiranku untuk menikmati angan yang bersahaja… dan membiarkan naluri merentangkan sayapnya…
berjumpa dengan beberapa pribadi yang sama dalam dimensi yang sama, mengagumi pesona pada bunga di musim semi dan memanjakan diri berlama-lama disana
Tak kuasa aku jatuh cinta…
siapa yang bisa mengingkari saat hati dibuai asmara?
aku yakin akan kekuatan cinta… dan aku merasa bahagia… lihatlah aku tertawa, sudah sekian lama aku tak tertawa… malah hampir lupa bagaimana caranya tertawa… untung aku bahagia… kembali teringat caranya tertawa,
disaat yang sama aku menangis… antara menangis dan tertawa terjembatani oleh elemen yang sama
haruskah ku menangis disaat aku bahagia?
tapi aku menangis bukan karena bahagia, justru merana…
sejauh mana aku bertahan dengan perasaan mencuri…?
walau bagaimanapun aku tak mengingkari, aku membutuhkan sosok lain sebagai pendamping
dan itu sangat manusiawi… tidakkah ini indah?
lupakan perasaan berdosa…
lupakan api neraka…
sementara nikmatilah cinta yang berkuasa…
dengan harapan, jika memang ini salah…
[sebelum aku benar-benar mati]
kuharap sempat meminta ampun pada sang ilahi.
[ 1 9 0 7 0 4 ]
I d e k o n y o l u n t u k m e n g h I d u p k a n n a l u r i
Semua ini…
tak kumengerti…
Semua ini…
tak mungkin kubawa sendiri
pastinya gelombang membawa ombak sampai ke pantai
pastinya angin menghembuskan nafasnya merayapi alam
tapi adakah senja menyibakkan tabir
hingga tak perlu berganti malam?
haruskah semesta merayu rembulan
agar menyunggingkan rona merah dipipinya?
entah pada siapa lagi harus kubagi?
entah pada siapa lagi…
[160704]
Kau marah pada siapa?
pada jemari waktu
ataukah dinding hati yang berwarna kelabu?
Aku dalam manusia…
pada jemari waktu
ataukah dinding hati yang berwarna kelabu?
mengenali diri
tetapi hanya terpaku pada satu titik,
…pada satu prinsip dan keyakinan yang hakiki
dengan akurasi yang pasti
dalam hal ini… Diskriminasi…
Lalu…
Apa maunya kesamaan pandangan
jika hanya dilihat dari sudut dimensi awam
sepertinya sia-sia menyusun satu-satu…
kata per kata…
menjadi beberapa kalimat
menjadi susunan paragraf
menjadi essay ataupun prosa
yang mestinya bermakna
tapi malas tuk dibaca…
hingga tak bisa dipahami
Aku dalam manusia…
Membaca setiap baris dalam jiwa
cukup cermat untuk menyimpulkan semuanya…
dengan apa adanya
NB : "Apa perlu kujabarkan pada setiap insan yang bertanya-tanya?"
June 2004
Kembali hatiku bersuara
dengan paraunya ia berkata
"Tentang dahan rapuh yang kering
esok kan bertunas kembali
dengan seribu bunga yang mewangi
serta buah-buahan yang bisa kau nikmati".
May 2004
Tuesday, July 27, 2004
Lalu akupun mencariMujauh dikedalaman hati
tak kutemui…
entah dimana Kau bersembunyi
ataukah aku yang berlari…?
Kuingin bertanya…
jika tidak padaMu
pada siapa lagi…?
haruskah kutulis surat
lalu kutitipkan pada malaikat?
atau terbang kehadapanMu
bersama jiwa yang rapuh?
Sepertinya kita tak saling bicara
tak satu kata pun terucap
maafkan aku…
kuharap malam ini kita mulai bicara
mungkin ketika kuterlelap Kau hadir dalam mimpi
atau ketika kuterbangun…
ada lembaran yang menjawab semuanya
jika tidak…
ambilah jiwa ini
karena ku tak ingin lagi
-230603-
Aku lelah mencariMu lagi
aku lelah bertanya hingga terbawa mimpi
harusnya tak terlintas seperti wangi surgawi
salahkah bila aku menyalahkanMu
perihal serpihan hati yang Kau susun untukku
tidak seperti mimpi-mimpi
dan dongeng abadi
sering kubertanya lagi
dan lagi
-Dec 2003-
Tuhan…
ampuni aku
jika terlalu banyak membuang waktu
menelaah setiap sudut dimensiku
mencari-cari kesalahan
yang Kau buat untukku
bukan itu maksudku
tapi…
segalanya ingin kubuat bermakna
sehingga bukan hanya kain kafan
yang kubawa kehadapanMu
-Dec 2003-
Tuhan…
kutahu seleraMu agung
dengan beragam mahakarya
yang tah terhitung
kutahu itu…
tapi…
salahkah bila aku meragu?
kupikir ada beberapa karyaMu
yang keliru…
ada juga beberapa produk belum jadi
yang terlanjur dipasarkan
inikah selera humorMu?
[Ampuni aku bila tak berkenan]
-Dec 2003-
Di palung hatinya ada ribuan tanya
yang ia sendiri tak tahu harus bertanya kepada siapa…
ketika buih ombak baru saja meninggalkan pantai
ombak lain datang menelanjangi pasirnya…
sesungguhnya ia tak mau bertanya-tanya lagi
inginnya malam yang buta
diterangi oleh sinar rembulan,
dihiasi barisan bintang berekor,
dan berharap salah satu di ufuk sana
kan jatuh ke dalam hatinya.
[Sept 2002]
Tuhan…
jangan Kau marah padaku
perihal prasangka dan egoku
yang pantang kompromi
hanya Kau yang tahu
prahara dan rencana hati
tapi segalanya berputar
searah jarum jam yang Kau beri
-Dec 2003-
Tuhan…
kutahu seleraMu agung
dengan beragam mahakarya
yang tah terhitung
kutahu itu…
tapi…
salahkah bila aku meragu?
kupikir ada beberapa karyaMu
yang keliru…
ada juga beberapa produk belum jadi
yang terlanjur dipasarkan
inikah selera humorMu?
[Ampuni aku bila tak berkenan]
-Dec 2003-
Hati hendak menulis apa?
sepertinya malas…
tetapi ada sesuatu terlintas
yang harus dibahas…
[may 2004]

