Tuesday, September 28, 2004

[a]ir langit

Kemarin… Tuhan berbaik hati mengisyaratkan langit tebarkan hujannya, setelah sekian lama bumi menggersang meretakkan tanah menjadi aorta semesta… saat kubuka jendela perdu yang sengaja kutanam menari kegirangan rindukan sentuhan air di tubuhnya… sementara pohon pisang milik tetangga mengibaskan telapaknya ke segala arah, seolah berkata selamat datang… kami semua merindukanmu… , aku hanya tersipu saat sepasang unggas mengembangkan bulu tengkuknya berharap kulitnya tersapu percikan air langit yang jatuh menimbulkan melody indah seperti suara sopran pada satu opera… yang paling kuinginkan justru bau tanah yang berbaring kini terjaga bahkan berloncatan berbunga aroma yang kurindukan… mmm… ingin kuciumi bahkan kupeluk tanah itu dengan segenap rindu… sama inginnya kubagi perasaan rindu ini bersama seseorang jauh disana… kita pernah mengalami ini… saat kubuka jendela… saat air langit terjun ke bumi… saat perdu menari… saat pohon pisang tetangga berkibasan…saat suara alam melagukan asmara… tapi saat itu aku tak perlu merindukan bau tanah… karena cukup kunikmati aroma tubuhmu saja… kau memelukku… kita menikmati saat-saat istimewa itu berdua, aku bisa merasakan debur jantung di samudra anganmu…
Jika kau tahu… aku merindukanmu lebih dari sekedar aku merindukan hujan…
Semoga Tuhan berbaik hati mempertemukan aku denganmu lagi…
Aku merindukanmu…

[Bukan fiktif… tapi nyata yang benar-benar kurasa pada percikan jam 5 sore, 230904]

@ 1:41 PM |

Saturday, September 25, 2004

[f]ur : Chacha

[a]ku cukup nyaman dengan hubungan kita saat ini, tapi aku juga tak mau terlalu banyak berharap, karena kutahu jika terbang terlalu tinggi... saat ku jatuh kan terasa sangat sakit, satu hal... kalaupun kita tak bisa bersama, tolong yakinkan aku bahwa suatu hari nanti kan kutemui sebentuk kasih yang lebih layak dari seseorang yang tepat untukku.

@ 1:49 PM |

[a]ku tak mau larut dalam lautan harap
karena aku berjanji
tuk lebih melindungi diri
tak lagi menyayatkan angan
kembali dalam kekecewaan…
sakitku masih terasa…
merindukan terapi agar terobati
karena sulit bagiku untuk mengobati diri sendiri…
jangankan untuk mengobati…
untuk mengetahui resep yang tepat saja aku tak tahu…

[please… Bantu aku tuk mengetahuinya…]
Teruntuk “Psikiaterku” : [h…_c…@yahoo.com]

@ 1:41 PM |

Friday, September 24, 2004

[4]: h_c@yahoo.com

Terima kasih atas daya yang kau hantarkan
bagi lentera yang menerangi malam ini…
yakinkan aku tuk lebih memahami hidup
karena segalanya masih terlalu samar untukku…

Bumi suarakan hati menembus langit

Aku memanggilmu…
[jika hatimu punya telinga]
datanglah padaku…

Ketuklah aku…
pasti kan kubukakan pintu untukmu…

bantulah aku tuk melupakan sesuatu,
karena aku pun tak ragu
tuk menemukan kembali sesuatu yang hilang
dalam hidupmu…
jika perlu…
izinkan aku menggantikannya, untukmu…

[Please… kamu denger aku kan? 00.13-240904]
“makasih… suara kamu anget…”

@ 9:06 AM |

Wednesday, September 22, 2004


sekali lagi... "aku tak mau mengawali... tidak juga mengakhiri... apalagi menyesali..." [segala harapan yang tlah kususun dan berhasil sampai di tanganmu] Posted by Hello

@ 3:32 PM |

[a]ku selalu ingin menulis untukmu
karena kau adalah api
yang menyulut Tungku Inspirasiku
tidakkah kau sadari itu?

@ 3:24 PM |

[a]pa gerangan yang kau bawa untukku…?
katakan dengan bisikan di telingaku…
aku justru tak bisa mendengar jika kau berteriak seperti itu…
kupikir hanyalah selembar harapan seperti yang tersaji di panorama hatimu…
ataukah sebentuk do’a yang indah agar ku bisa terlelap lagi dalam pelukan malam…
kau ingin aku tidur lagi kan? kau ingin aku bermimpi lagi kan?
aku terlanjur terjaga…, tak mungkin terlelap lagi…
aku heran mendapati diri tak lagi berada di dekatmu
bukankah mentari selalu ada untuk kita…?
bukankah surga selalu dekat saat kita bersama…?
aku seperti orang asing yang kehilangan peta…
tak ada arah yang memanduku lagi…
bahkan antara utara dan selatan sama sekali aku tak bisa membedakannya…
ini adalah dilemma… antara iya dan tidak…
sementara aku menginginkan sesuatu kau tak menginginkannya…
atau aku sedang menyusun sesuatu, kau hanya mencibir disana
tak mau membantuku lagi…
aku berbuat sesuka hati…
tapi aku ingin kau memperingati…
karena jika salah aku bisa dengan mudah memperbaiki.

@ 3:21 PM |

[c]ard 4 Dianka...


;-( Posted by Hello

@ 9:47 AM |

Thursday, September 16, 2004

[a]ku ini pasienmu...

“Tuhan… bantulah aku melupakannya…”
setiap detik saatku berbaring adalah saat-saat tragis untukku berjuang memeluk malam… bahkan setiap detiknya sangatlah berarti, menggugurkan sekuntum angan yang hampir mekar menjadi kelopak yang jatuh satu per satu…
Ia bisa menjadi apa saja… semalam ia adalah nyamuk penghisap darah, pengganggu tidurku... ingin kubunuh tapi ia terbang menjauh, sempat kulihat dari ekor mataku ia terbang perlahan, harusnya sempat bagiku untuk menghajarnya bertubi-tubi hingga akhirnya isi perutnya meledak menumpahkan darah segar di telapak tanganku… tetapi aku tak kuasa… aku biarkan saja ia melayang-layang mengelilingi batu nisanku…
aku mati…
tak bisa berbuat apa-apa lagi…
aku tak bisa mengetuk hatinya lagi…
ingin kubisikkan bahwa sakitku kambuh lagi…
bahkan lebih kronis lagi…
karena aku tak bisa berbagi dengannya lagi…
aku tak bisa menyimak nasihatnya lagi…
nasihat yang dulu menyembuhkan, menjadikanku terlalu addictive untuk selalu ingin mendengarkan suaranya lagi…
ingin ku berteriak…
“AKU INI PASIENMU… hanya kamu yang bisa menyembuhkanku…”
Tapi saat ini suaraku sudah tak ada artinya lagi, walaupun pada kenyataannya kuingin selalu berarti baginya…
Pernah satu malam… saat kerudung hitam menggantung suram… sesuram anganku yang tak mau tenggelam… inginku mendengar suaranya lebih dalam… meski hanya beberapa kata yang terhembuskan… ia pun tersenyum perlahan… ingin ku merayunya tapi malam tlah menuntunnya lelap beberapa saat… ia menyampaikan terima kasih telah membuatnya terjaga, karena ia hampir saja lupa menyiapkan seragam kerja…,
tidak Dianka… justru aku yang harusnya berterima kasih… telah kau suarakan nada penghantar tidurku dan aku bisa terlelap saat ini juga karenamu… aku ingin berarti seperti malam itu… meski yang kulakukan tidaklah terlalu banyak.
Mungkin baginya aku bukanlah apa-apa… tapi penting bagiku menyampaikan sedikit sesal yang tertunda… saat ia tiba mengetuk pintuku, mestinya tak perlu kubuka begitu saja, apalagi membiarkannya masuk karena aku tak kuasa tuk tidak menyajikan mawar agar ia membuatnya mekar, jika terlanjur seperti itu, inginku menempatkannya di ruang istimewa… dan kukunci saja semua pintu agar hanya kita berdua yang berada didalamnya… sayang… ia menghilang sebelum sempat pintu itu kukunci…

[ya… ampun… lagi-lagi Wednesday Slow Machine Kis FM memutar lagu “Because of You” kok bisa pas lagi ? kenapa setiap aku menulis malam selalu diputar lagu yang sama… apakah ini selera Jakarta… atau mereka tahu aku terlalu melankolis untuk segera hanyut menyimak lagu ini? hiks… aku tak bisa lupa… ingin kusampaikan My life has changed, thank u for the love & the joy u bring…, aku selalu senang berada didekatmu… tapi sebaliknya jika jauh aku ga senang…©160904 - 01.58 am]

@ 11:52 AM |

Wednesday, September 15, 2004

[c]ukup indah meyakinkan seseorang
bahwa di dunia ini masih tersisa cinta…
bahkan lebih banyak dari yang kita tahu…
aku sendiri tak terlalu yakin bisa menemukan cinta lagi…
tapi kan tiba waktunya tunas itu kan tumbuh
dan berbunga lagi dalam hatiku…
“Percayalah… cinta tak mungkin meninggalkan kita…”

@ 12:06 PM |

[Kau adalah perdu]
yang begitu saja tumbuh…
cukup mengganggu

tapi kubiarkan saja kau berbunga disitu
sesekali ingin kucabut
tapi akarmu terlalu kuat mencengkram hatiku…

@ 11:58 AM |

Tuesday, September 14, 2004

[t]ernyata calon mempelai pria tak sanggup tuk ikrarkan janji… ia berlari… tapi tidak juga kembali pada kekasih hatinya, ia bersembunyi… karena ia ingin sendiri… sementara calon mempelai wanita terus mencari…
Maafkan aku Mentari Kecil… aku terlalu kerdil tuk menjadi mempelai priamu… salahku… sedetik pun tak sanggup kulupakan Tazmania Kecilku… ia bersemayam dalam ruang anganku, cukup mengganggu… [ironisnya kubiarkan saja begitu] ia selalu ada dalam nafasku… tapi ku tak dapat memburu, karena kupikir ia membisu… dan aku pun begitu… walau kenyataannya ku tetap menunggu…
[“Tiga cinta yang selalu mengharapkan tapi tak satu pun bertaut”]

@ 10:31 AM |

[a]dakalanya aku mengetuk…
berharap tuk diijinkan masuk…
tapi tidak juga ada yang membukakan pintu untukku…
“Tolong bukakan pintu… aku ingin bermain di ruang anganmu…
kumohon… aku tak sanggup jika terus berdiri disini…”
Aku menunggu…
meski ku tahu betapa sulit meyakinkan hatimu tuk segera membukakan pintu
aku hanya bisa berdiri di beranda…
tapi tak apalah…
setidaknya terlindungi dari badai…
ku tahu… pasti ada alasan bijak untuk kau tak membukakan pintu…
karena kadang aku pun begitu…
jika seseorang mengetuk pintuku…
tak mungkin langsung kubukakan pintu…
karena ada beberapa alasan yang tak mudah dipahami…
mungkin sedikit keraguan atau kekhawatiran,
yang jelas ada alasan tertentu kenapa tak juga kubukakan pintu…
tapi tentunya kupersilakan ia bermain di beranda…
kusajikan minuman dan sedikit makanan…
kusediakan pula bantal dan selimut
agar nyaman dan terlindungi dari kabut…

[Please mengertilah… karena aku pun mengerti…]

@ 10:29 AM |

Thursday, September 09, 2004

[a]ku MALAS berbuat apa-apa lagi
yang kuinginkan hanyalah KAMU>>>


@ 3:59 PM |