Sunday, October 31, 2004

[m]ungkin aku kan benar-benar menjadi hakim
yang hanya bisa memohon "Jangan pergi...please..."

@ 9:27 PM |

[s]elamat tinggal Oktober... kita kan berjumpa 12 bulan mendatang... ingin kulupakan saja hari-hari yang kulalui kemarin... tapi semakin ingin kulupakan justru semakin aku tak bisa melupakan... "One Last Cry" yang kau suka kuharap tidak benar-benar mengalirkan air mata... begitu juga pelukan yang kusuka kuharap bukan pelukan terakhir... selangkah lagi November kan mengawali sesuatu yang pastinya ku tak tahu... semoga... harapan baru bersinar menghangati awal hari saat kubuka jendela esok pagi... menyinari ujung kamarku... dan tentunya ruang anganku yang lembab... semoga...

@ 9:17 PM |

Saturday, October 30, 2004


[a]ku ingin kamu mengerti... yakinlah ku takkan menyakitimu Posted by Hello

@ 10:37 AM |

Thursday, October 28, 2004

[s]eQuel pelacur... [maaf]

Mungkin ini adalah sequel dari tulisan “Kita” yang secara vulgarnya kususun menjadi bait yang tak berkenan buatmu… maaf jika tulisan kemarin hanya mengadaptasi egoku saja… maaf sekali lagi…
Aku mungkin terlalu kekanak-kanakan menanggapi sebuah hubungan, bisa jadi terlalu terburu-buru… harusnya aku bisa lebih “Menikmati” emosi yang tejalin begitu saja, kadang egoku selalu datang tanpa kompromi & itu salah satu kekuranganku, aku sepenuhnya sadar akan itu… Plese… kamu jangan terlalu menanggapinya dengan berlebihan juga, dan kuharap kamu tidak membacanya dengan pecahan-pecahan di bagian tertentu… percayalah jika dibaca secara keseluruhan dengan pendekatan explorasi… pastinya kan terbentuk hamparan samudra dengan beragam harapan luas… tapi jika kusampaikan begitu saja harapan-harapan yang mulai kugali tentunya takkan pernah cukup menuliskannya… begitu juga dengan dangkalnya nyaliku tuk menyampaikannya padamu [aku takut justru ini yang membuatmu berpaling begitu saja dariku] bisa jadi aku terlalu obsessive harus begini dan begitu, sebenarnya aku selalu membebaskanmu sebagai seorang individu… dengan mengesampingkan rasa inginku, tapi perlu kau ketahui juga bahwa apa yang ingin kujalani, sedapat mungkin harus terhampar landasan… bagaimana kita bisa melangkah dengan aman jika landasan saja tak mampu kita bangun bersama…? Tapi yang pasti selama ini aku cukup nyaman dengan tindakan kita, jika diambil simple-nya…
“Yaa… memang ga ada yang salah…”
Sampai tiba waktunya kamu membaca tulisan itu yang memuat segala egoku… dan kamu tak sepenuhnya berkenan dan ingin mereview hubungan ini, aku tak tahu maksudnya berkonotasi negative atau positive, ketahuilah… aku belum sempat mengedit beberapa kalimat janggal mengingat kuharus memburu waktu karena ingin memenuhi permintaanmu sore itu, biasanya kubaca berkali-kali lagi dan merubah beberapa bagian hingga kutemukan nada yang halus dan tepat hingga saat dibaca tujuannya sampai secara meaningful dan tidak berkesan vulgar dengan sedikit permainan logika… kuharap kamu mengerti… jika kamu tak merasa risi, aku selalu rindu… & takut kehilanganmu… sepertinya tak mungkin aku harus selalu berpura-pura tegar didepanmu, sementara hatiku selalu mengalami paranoid yang berlebihan akan kecenderunganmu tuk pergi begitu saja… aku takut akan kesendirianku… bukalah hati… aku selalu mengetukmu perlahan… tanpa paksaan…

[©281004 : 9 a.m…”Hhhh…Tak bisa memulai aktifitas, sebelum argumentasi ini sampai pdmu…“Killing Me Softly” MP3 pas benner… bikin hati meringis”]

@ 10:46 AM |

Wednesday, October 27, 2004

[s]emalam senyummu tersungging lebih indah
tatap matamu tajam menyabik hatiku
terlebih wangi tubuhmu angkuh
ajakku terbangkan hasrat memburu
bolehkah kucicipi…
ujung rambutmu atau belaian kulitmu?
sedikit saja…
tetapi angan tak henti memanggil Tuhan
ingin kuraih tanganMu
berteriak….
“Hentikan aku menodai bulan suciMu…”
aku ingin berlari dari tubuh telanjang ini
tapi tak bisa…
syahwatku terlalu berkuasa…


[mengapa sesal selalu mengulur waktu?
mengapa tak datang lebih awal untukku?
hari terbejad seumur hidupku… tak boleh terulang lagi]
© 251004

@ 3:18 PM |

Monday, October 25, 2004

[k]ita

[a]ku takkan pernah bisa benar-benar memulai persuasi ini… ada keinginan untukku benar-benar memulai, tapi ternyata terlalu sulit memulai semua ini…, aku takkan menangis jika ternyata kau ingin pergi, sebaliknya aku mungkin kan tertawa melihat kenyataan yang lagi-lagi tak sejalan dengan anganku, meski ini sebuah tragedi inginku merubahnya menjadi semacam lelucon atau komedi situasi seperti tayangan hitam putih Charlie Chaplin atau Mr. Bean.
“Oke… mungkin aku terlalu menganggap ini berlebihan… terlalu jauh mandang ke depan, tapi apa salahnya aku melindungi diri dengan tidak terlalu berharap banyak… meski kenyataannya aku terlanjur barharap begitu saja lebih dari yang kutahu…”
Mungkin aku hanya bisa lebih banyak diam…seperti orang sakit… tersudut di depan monitor yang memasang wallpapermu : senyummu… rambutmu… kupingmu yang sering kugigit… dan beberapa garis wajahmu yang amat kusuka… aku pastinya kan lebih mengingat timbre suaramu… atau beberapa interaksi romantis yang pernah kita susun… mungkin juga kan lebih banyak menikmati sepasang kupu-kupu jingga yang sengaja kucuri dari dinding kamar mandimu… andaikan aku dan kamu bisa seperti itu, tentu aku kan sangat bahagia… melayang berdua saja… menikmati senja dengan kepakan sederhana dibalik awan yang menggantungkan beberapa harapan kita… [ups… maksudnya harapanku yang sering kuungkapkan padamu dan tak pernah kamu tanggapi] atau mungkin aku kan benar-benar menangis… karena aku tak yakin jika ternyata hati meratap menyatakan betapa leganya jika bisa terurai melalui air mata… bukankah lelaki sejati pun kan dikatakan sejati jika ia tak segan-segan tuk menangis…?

AKU…
Bisa jadi hanya sebentuk karakter dengan beban yang kuatur sendiri, dengan beragam harapan yang ingin kuwujudkan bersama seseorang jauh disana… dengan kepercayaan diri yang dangkal mencoba mempromosikan beberapa paket kasih dengan kemasan apik yang terbentuk begitu saja…apa adanya, mungkin jauh dari sempurna, didukung sejumlah kerinduan yang kadang tak kenal waktu atau sebentuk prahara yang mungkin kan menganggu… Beberapa sifatku kadang lebih sering kumaki…
“Kamu manja…” makianku pada diriku sendiri saat kudapati betapa manjanya aku dihadapan beberapa pribadi, aku harusnya bisa lebih tampil dewasa… tapi entah mengapa ia datang tanpa diundang… atau…
“Udah lah… mellow banget sih…” kadang makian ini juga jadi sarapanku setiap hari… sudah cukup senang dengan sapaan mentari pagi ini, janji kan semangat hingga esok lagi tapi tak lama satu permasalahan yang bisa buatku bad trip… semacam sakau yang tak terlayani… hilang semangat…
“Aku harus gimana…?” Pertanyaan yang selalu tak mendapat jawaban tepat… inginku berlari dari segala prahara… tapi dengan berlari prahara tetap kan menjadi prahara… justru dengan menghadapi, prahara mungkin kan berubah wujud menjadi bahagia… seperti aku menerima jika benar-benar kau pergi, tentunya aku kan menghadapimu dengan sedikit keyakinanku…
“Kamu ga boleh pergi sebelum memaparkan semuanya… aku butuh klarifikasi…”
Mungkin aku kan berlagak so wartawan dengan pertanyaan menyudutkan, atau bisa saja menjadi seorang hakim dengan palu di tangan, dan kamu tentunya sebagai terdakwa dengan beberapa tuduhan seperti penyalahgunaan fungsi hati dan pertanggungjawaban yang tak sesuai dengan tindakan…
“Tidak diizinkan seorang pun meninggalkan ruang hati ini, sebelum segalanya jelas dan tidak merasa dirugikan bagi kedua belah pihak”
Tapi jika aku benar-benar harus menghakimimu… mungkin aku takkan pernah bisa menghakimi, aku sendiri tak yakin jika ada seorang hakim yang hanya bisa memohon…
“Jangan pergi… Please…”
Tanpa perlu ku berpura-pura meneteskan air mata piranha atau buaya… yang pasti kau tahu… hati kecilku yang berbicara seperti itu…

KAMU…
Seorang pribadi sederhana yang tiba-tiba singgah, dengan segala keterpanaanku… secara natural kornea mata mengirimkan sinyal melalui otak lalu diproses yang kemudian ditransfer menjadi beberapa folder yang tak kumengerti tuk selanjutnya data tersebut dianalisa pada satu laboratorium bernama bathin… sebenarnya tak terlalu banyak data yang akurat berhasil sampai di meja praktikum, yang jelas… akibat kejadian masa kecil yang membuat pribadimu seperti itu… jika boleh kutulis mungkin kamu terlalu takut jika seseorang dekat denganmu, kamu terlalu khawatir jika seseorang berusaha dekat… pikirmu pastilah dibalik selimut kasihnya terdapat duri yang kan menyakitimu…
“Tidak semua berperilaku seperti itu… mungkin itu perilaku hewan, yang secara naluri terealisir sebagai salah satu tindakan melindungi pasangannya”
perlu kuyakinkan padamu juga… seseorang yang selalu ingin dekat denganmu pastinya ingin berbagi kasih denganmu… bukan berarti ia kan menyakitmu… jika ternyata seseorang itu tulus menyayangimu, tapi ternyata kau meninggalkan begitu saja, apa justru bukan kamu yang menyakitinya? Apa kamu terlalu banyak hati tuk bisa berbagi? Apa dengan begitu trauma masa kecilmu dulu kan merasa terbalaskan? apakah dengan sikap empatimu justru kan menempatkanmu pada masalah baru? Bisa saja seseorang itu justru lebih kan menggebu tuk mendapatkanmu… atau justru kan menyusun rencana tak bijak tuk membalas dendam padamu… aku tak pernah bisa membayangkan jika hal itu terjadi… mungkin sebaiknya kau lebih berhati-hati lagi… meski aku tak yakin hatimu terbuat dari apa… apakah segumpal darah atau semacam karat besi? Maaf jika aku berkesan menghakimi… ketahuilah aku bukan hakim yang berpotensi…

KITA…
Tak berlebihan jika kutulis kita adalah pasangan yang tak mau saling mengerti… meski bisa mengerti adalah pada saat-saat tertentu, lebih banyak mengerti saat bibir berpagut bertukaran liur atau saat tangan saling merangkul pundak dan punggung atau saat dimana kita hanya diam berdua sangat dekat… dengan tubuh telanjang setelah mengalami ejakulasi yang melelahkan… kadang aku tenggelam didadamu… mencari-cari detak jantungmu, siapa tahu aku menemukan sedikitnya harapanmu yang bisa kucuri tuk kukaji sebenarnya apa yang selama ini kamu cari…? Tapi selama ini tak satupun kutemukan itu… aku hanya was-was jika kehadiranku hanyalah sebagai peredam hasratmu saja… aku ingin berlalu jika ternyata hal itu yang selama ini kamu cari… Kadang aku juga mencari-cari jawaban apakah benar kamu mengatakan sayang seperti yang sering kamu lakukan saat kita sedang melambungkan hasrat berdua…? Apakah telingaku salah cerna atau salah menjabarkan arti kata itu saat kau terangah-engah hampir tiba waktumu tuk melepaskan sesuatu, atau saat kau berada diatas tubuhku dengan tangan menggenggam kemaluanmu yang hampir melelehkan segenap kepuasan? Saat itu aku tak lebih sebagai pelacur tanpa sedikitpun kehormatan yang kumiliki bermimpi kan menjadi langganan bagi tamunya… maaf jika si pelacur lebih sering bermimpi meraih sesuatu jauh… diujung sana… mungkin kebahagiaan atau justru ketakutan yang kudapatkan… aku tak tahu… bantulah aku tuk menemukan jawabnya… Aku lebih menikmati pelukan di menit-menit terakhir aku selalu merasa kehilangan seseorang seperti dalam upacara kematian, saat itu aku selalu bertanya…
“Akankah kutemui lagi pelukan ini atau kuharus kehilangan lagi…?” karena menit-menit terakhir itu bisa saja pelukan terakhir seperti yang sering aku alami… dan itu sesuatu yang selalu menghantui saat kumemelukmu sebelum kuberanjak pergi meninggalkan sedikit harapan yang kusematkan didadamu… terasa lebih hangat dan tak ingin kulepas…
Tak keberatan kan jika di menit-menit terakhir selalu kuminta…
“Sepuluh menit lagi… peluk aku…”


[“Maaf jika rasa sayangku dituangkan menjadi tulisan spt ini… tolong… jika kamu punya hati, sedikitlah berbagi… jangan sampai rasa ini justru membuatmu benci…please… aku takkan menyakitimu…” © sebuah catatan jam 2 pagi menjelang sahur… insomniaku kambuh gara2 kita membahas ‘kumat’mu yang tak kumengerti sore tadi…251004]

@ 10:20 AM |

Monday, October 18, 2004

[a]ku tak sanggup meninggalkan semua... tapi aku pun tak sanggup jika harus selalu merasa terpenjara..

@ 11:14 AM |

Thursday, October 14, 2004

[a]ku kan bermanja bersama bulan suci…
ku kan mengabdi pada cinta Illahi…
tapi kuragu…
akankah aku kan benar-benar kembali…
ke jalan yang diridhoi ?
atau kan kembali membiarkan hasrat
berlari lagi…
aku ingin kembali…
tapi tak yakin ku sanggup menjalani

© jelang ramadhan buatku meratap diri

@ 3:42 PM |

Wednesday, October 13, 2004

12 jam bersamamu...

....adalah saat-saat ku terpana dalam keindahanmu, kita berperilaku sebagaimana manusia seutuhnya... Aku melamunkan tidak hanya sebatas 12 jam, tapi berhari, berminggu, bertahun atau bahkan selamanya bersamamu, simaklah dongeng masa kecil kita... semuanya berakhir bahagia... jika kita bagian dari kisah itu, pasti ku kan sangat bahagia... tapi jika mengingat masa lalu kita pastinya kita tak mau mengalami berbagai hal yang membuat kita seperti ini… masa lalu kita sama, bermula dari beragam benturan jiwa pada masa beranjak dewasa, ada beragam kekecewaan atau sesuatu yang tidak kita inginkan, tapi justru saat ini menjadi sesuatu yang sangat kita inginkan… mungkin terlalu keji jika kutulis masa lalu kita suram, sementara rumah yang kita tinggali selalu hangat oleh kasih di dalamnya…
Aku muak jika harus memikirkan ini lagi, apakah obsesi Tuhan menjadikan kita begini? Atau ini hanyalah versi lain dari yang namanya cobaan… jika memang ini cobaan, aku iba… betapa ku tak dapat menjalaninya… aku haus… inginnya selalu berbagi kasih bersama orang yang kucinta… jika orang yang kucinta ternyata seseorang yang tak boleh kugauli… seseorang yang malah mendatangkan dosa, harus kubagi bersama siapa lagi? lalu harus kusimpan dimana naluri ini? syarafku selalu mengakar ke perut bumi, jika terus memikirkan ini lagi… aku cemburu melihat sepasang kekasih bermanja di depanku… atau suami istri bergandengan tangan di taman kota… terlebih saat anak-anak mereka berhamburan memeluk kaki-kaki tegar ayah dan bunda… aku terus mancari dimanakah kutempatkan diriku saat seusia mereka? cukup di pelukan bunda saja? sepertinya tak cukup dan itulah yang membuatku selalu rindu pada sosok selain bunda… aku tahu kasihnya yang bergelimang… aku tahu kasih itu tertuju tulus buatku… tapi justru itu yang membuatku selalu merasa tak cukup atau lebih tepatnya merasa tak terlengkapi… aku merindukan sosok lain… betapa mengherankan jika kudapati diri beranjak dewasa dalam kondisi ini, aku selalu sukses membuat orang yakin akan ketegaranku menghadapi hari, jika ada yang bertanya mengenai kiat sukses menghadapi hari, jujur kan kujawab aku berhasil karena aku mampu berpura-pura… berpura-pura tegar… berpura-pura bahagia… berpura-pura tidak merindukan siapa-siapa… padahal kenyataannya aku merana… terlebih saatku harus berhadapan dengan keluarga… aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja… sementara hati kecilku selalu menyibukkan diri menyembuhkan memar ataupun luka saat kuucapkan kalimat yang kuusahakan sebijak mungkin terucap dari bibirku… biasanya setelah itu aku menghela nafas… berusaha memberikan ruang pada rongga yang tiba-tiba saja menyempit, memberikan atmosfir untukku dapat menyusun kerinduan lama dengan pondasi baru… kadang ini juga yang membuatku tertawa… jelas ku tertawa pada kenyataan yang harus ku hadapi selama ini… bukan karena lucu ataupun kocak, tapi karena logika yang mengatakan aku harus tertawa… menghadapi ini semua selalu membuatku tertawa, apalagi saat kukenang cumbuanku pada seseorang atau sebaliknya… layaknya dua bocah telanjang berkejaran merayu gerimis sore hari, mengisi hati dengan berjuta harapan yang mungkin tak kan mungkin terwujudkan… kadang ini juga yang membuatku menangis… impian yang mestinya bisa kuwujudkan tapi harus kandas sebelum tiba di pantai, terlalu banyak tsunami yang menimpa… norma sosial, agama, mungkin juga hukum, bahkan nurani yang selalu mengatakan bahwa ini salah… parahnya lagi saat kusimak beberapa ayat yang mengajarkan keyakinan, secara tak langsung aku merasa terhakimi bahwa tubuhku dan ruh yang ada didalamnya adalah seonggok maksiat yang dengan senang hati menceburkan diri pada jilatan api neraka… aku ini pendosa berat… aku ini pendusta… aku ini pengkhianat… jika sang Penguji memberikan cobaan tentunya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki… jika boleh sekali lagi aku mengiba… sayangnya aku tak pernah sanggup menjalani cobaan ini… mungkin ku harus tinggal kelas agar ku bisa lebih banyak lagi belajar, memahami segala sesuatunya, mungkin bersamamu… karena 12 jam bersamamu adalah saat-saat ku bisa belajar memahami diri sekaligus meminta sedikit perhatian agar kau mengawasiku dalam belajar menghadapi esok hari… jika apa yang kita lakukan adalah khilaf yang sengaja dilakukan hingga terangkum kata dosa, sesungguhnya dibalik semua itu adalah proses belajar menuju pemahaman diri, atau… jika kita ini adalah orang-orang sakit, tentunya aku dan kau tengah menjalani terapi menuju kesembuhan… kuingin dunia berdoa dan mengucapkan harap “Semoga lekas sembuh”. (©121004)

@ 3:32 PM |

Saturday, October 09, 2004

[c]hacha...

[d]i relung-relung kamarku
kulihat kau tersenyum
berangkaian kata rindu
puisiku untukmu…
kasih… adakah waktu tersisa ?
untuk dapat saling bicara
tentang kembang mawar kita
yang berwarna jingga
kini dia mekar kelopaknya
sayang tersia-sia
walau setia didalam makna
tidakkah kau tahu
ku selalu mencari waktu
tuk bertemu denganmu
lihatlah kedua mataku berbinar resah
dan jiwaku tlah lelah
apakah karena selalu kubersikap
seperti adanya ?
yang lemah dan berhias kesalahan
tiada sempurna…

[‘di relung kamarku’ katon_bagaskara]

@ 3:28 PM |

Wednesday, October 06, 2004

[a]ku ingin menciummu lagi...
menenggelamkan diri di dadamu...
melawan arus keraguanmu...

@ 1:54 PM |

[k]amu

“Dasar coro… !!!”
“Siapa coro ?”
“Ya kamu… siapa lagi…”
“Kalo aku coro berarti kamu rayap…”
“Haa… rayap ?”
“Iya… rayap yang menggerogoti rumah anganku…”
“Ha… ha… kamu lucu…”
“Apanya yang lucu…?”
“Omongan kamu…”
“Emang kenapa ?”
“Kok bisa aku disamain dengan rayap ? emang aku gerogoti kamu, apa ?”
“Lha… iya… kamu ganggu aku dengan tipuanmu, bagiku kamu ga lebih dari rayap, kamu ada, tapi cuma mengganggu saja… untuk bicara saja kamu ga bisa, karena jiwamu ga ada…”
“Aku ga bisa mutusin dalam waktu dekat…sayang…”
“Tapi kamu bisa kan belajar cepat… please waktuku tinggal sedikit, jangan sampai hubungan kita ga jelas seperti ini…”
“Ya… maaf… tapi tuk mutusin segala sesuatu butuh waktu yang ga sedikit… kamu mau kalo aku salah ambil keputusan…?”
“Ga mau juga sih… tapi aku ga nyaman kalau apa yang kita lakukan selama ini, tanpa didasari sesuatu yang jelas…”
“Yang penting kamu masih mau kan ngerayu aku ?”
“Aku ga pernah ngerayu…”
“Gombal… “
“Kamu rombeng…”
“Jelek…”
“Tapi ciumanku maut kan ?”
“Yup… sebenarnya kamu cukup qualify tuk kujadikan pasangan?”
“So…?”
“Ya… justru aku harus menguji diri dulu, bahwa kamu memang orang yang tepat mendampingi aku…”
“Seribet itu ?”
“Waktu yang kan menjawab…”
“Jangan lama-lama…”
“Apanya ?”
“Ngambil keputusannya…”
“Kalo misalkan aku nolak kamu, gimana ?”
“Gampang aja… aku bisa jalan ma orang lain… toh fansku masih banyak…”
“Aku jadi cemburu kalau kamu ngebahas fans kamu…”
“Ga dink… aku cuma mo ngejalani hidup ini lebih tenang bareng kamu…”
“Ya… aku juga inginnya begitu…”
“So… yakini aku dong, kamu satu-satunya…”
“Caranya ?”
“Dengan merealisasikan rasa sayang kamu melalui hati… kamu bilang sayang hanya saat kita bercumbu… padahal hatimu ga berkata seperti itu…”
“Emang aku seperti itu ya ?”
“Iya… emang kamu ga sadar apa ?”
“He… he… iya juga sih…”
“Kamu tahu…? Aku ga pernah main-main dengan perasaanku… jika kamu bermaksud hanya singgah sementara saja… lebih baik secepatnya kamu pergi… ga perlu berlama-lama menyayatkan impian lebih dalam lagi…”
“Aku ga bakalan ninggalin kamu… kecuali kamu inginkan…”
“Aku ga mau kamu pergi begitu saja, aku ga mau gagal lagi”
“Untung kamu gagal… ada kesempatan buatku kenal denganmu”
“Gokil… aku sakit… jadi kamu yang untung…”
“Jadi kamu ga suka ketemu aku…”
“Sudah kubilang aku bangga bisa ketemu kamu… ga nyangka aku bisa ngelewatin waktu bareng orang pintar macam kamu…”
“Pintar apa ?”
“Pintar ngerayu…”
“Kamu juga pintar…”
“Pintar apa ?”
“Pintar cium aku…, kamu buat aku kehilangan beberapa hari ini… aku gila…”
“Ga pa-pa aku juga gila…”
“Kita sama-sama gila… seperti malam ini…” © 061004

@ 10:21 AM |

Monday, October 04, 2004


[y]ou are far... when i could have been your star... Posted by Hello

@ 12:08 PM |

Friday, October 01, 2004

[b]ukan strategi pasar... tapi nurani...

[s]sst… jangan bilang-bilang, jika kita sama-sama gila… aku sendiri tiba-tiba merasa rakus dari sebelumnya karena kau begitu mempesona, jangan bilang aku gombal… aku sungguh-sungguh tulus berbuat itu… interaksi yang kita susun bukanlah strategi pasar lagi… tapi nyata… benar-benar nurani yang menginginkannya seperti itu… lalu kau pikir aku pura-pura lugu didepanmu ?… tidak… malam itu anjing yang menjilati tubuhmu adalah aku dan nyamuk yang mengganggu tidur dan menggigiti kupingmu adalah aku yang sesungguhnya… bukan orang lain, kau pikir siapa ? aku bisa berubah jadi apapun jika kau inginkan… please honey… jangan terjebak oleh alam pikiranmu sendiri, berpendapat tentang aku berdasarkan tulisanku yang lugu…, aku tak seperti yang kau kira, dan aku tak mungkin berpura-pura lugu didepanmu… aku adalah diriku sendiri malam itu, biarpun aku bisa berubah-ubah wujud, tapi sesungguhnya didalamnya adalah aku…, aku sendiri surprise melihat penampakanmu, tidak sekaku apa yang ada di alam khayalku… kamu lebih halus dibanding profile yang kudapat dari setiap perbincangan yang berhasil kita buat… dan suaramu pastinya mampu meruntuhkan banyak hati, aku tak merasa terjebak, sebaliknya aku terpesona…
Aku bingung harus meyakinkan kau seperti apa lagi, aku melakukan apa saja seperti yang kau minta, tapi… maaf jika permintaan terakhirmu tak sempat aku penuhi, bukan strategi pasar, tapi aku belum siap jika harus seperti itu… please… tentunya waktu yang bisa melakukannya… santai saja… pasti kan terjawab juga…
Lalu kau melakukan apa untukku…? Maaf jika aku sedikit amnesia, terbentur perasaan yang bergejolak saat bersamamu, harusnya kubenturkan lagi keningku di bibirmu, agar teringat kembali… aku lupa apa saja yang kau buat untukku, hanya saja aku merasa nyaman kita saling berdekatan dengan cara seperti itu… aku merasa mampu saat ku bersamamu… aku menjadi kuat karena kasihmu… [jangan kau anggap lagi-lagi ‘gombal’] apa perlu aku terjemahkan dalam berbagai bahasa agar kau yakin dengan kata ‘suka’… serius… aku tak pernah main-main dengan perasaanku… karena aku merindukan hubungan seperti ini… analisa yang kudapat tentangmu masih terlalu dangkal… aku ingin menggali lagi segala misteri yang ada, bahkan aku ingin sekali mendaki hatimu jauh… jauh sekali, aku ingin meraih segala yang ada padamu, menjadikanmu mentari di semesta hatiku, tak mungkin kan jagad ini mempunyai lebih dari satu mentari ? menjadikanmu satu-satunya, begitu juga sebaliknya aku ingin menjadi seseorang di hatimu, masihkah kau ragu itu…?
Eit… jangan bilang aku terlalu mengada-ada saat kuungkap aku tak mau terlelap karena takut jika ternyata tubuhmu menghilang saat ku terbangun, aku merasa paranoid jika harus mengalami itu… tapi aku pun sempat terlelap dan sedikit menikmati egoku melayangkan ruhku, melupakan sejenak pelukanmu… tapi hanya sesaat… tak lama kuterbangun dan merasa lega… ternyata kau masih ada untukku… tidakkah kau sadari… aku membutuhkanmu… please… tetaplah bersamaku, aku yakin kita kan berjalan berdampingan, tentunya dengan saling membebaskan rutinitas kita, tak perlu merasa terkunci… aku takkan sekejam itu memasungmu… kita punya kesibukan masing-masing dan kuhargai usahamu dalam meraih apa yang kau inginkan, aku mendukungmu, jika perlu aku kan membantumu… itu pun kalau kau mau… aku tak pernah ragu tuk membantumu, hanya saja takut akankah sakit yang pernah kau alami, tiba-tiba kan menguasai egomu kembali…? aku kecewa jika ternyata aku tak bisa berbuat apa-apa… aku mempunyai kecenderungan tuk selalu ingin membuat orang bahagia… jika ternyata aku berada di dekatmu dan ternyata kau mengalami sakit itu sendiri… berbagilah denganku… please… beri kesempatan untukku memahami semuanya… tentangmu… tentang masa lalumu yang membuatmu muak… setidaknya aku turut merasakan sakitmu, meski tak yakin apa yang bisa ku perbuat , tapi pastinya aku kan berusaha mengobati… aku berjanji [300904>”saat hati menggeliat, menyuarakan apa adanya”]

@ 3:27 PM |