Thursday, November 25, 2004

[21 November 2004] semoga malam ini adalah pembuka bagi kehidupanku yang baru... aku ingin hijrah ke jalanMu ya Allah... kuatkanlah imanku, teguhkan hatiku untuk kembali mengecap kasihMu, untuk bisa merubah apa yang bisa dirubah, memungut kembali sisa-sisa kehidupan religiusku yang dulu, mengkaji ajaranMu dan meyakini dengan sesungguhnya keyakinan... rengkuhlah aku jika aku lalai... bangunkan aku jika aku bermimpi lagi... tunjukkan arah jika aku tersesat pada labirin duniawi ini... dan rubahlah cara pandangku yang sesat selama ini ya Allah... karena hanya Kau yang sanggup memungkinkan sesuatu yang tak mungkin...
Wednesday, November 24, 2004
Tuhan…izinkan aku menyimak kelahiran hidupMu yang baru…
ada dalam ruhku…
menjadikanMu satu-satunya…
tanpa perlu lagi kuberusaha menjauh dari pelukanMu…
aku menginginkanMu…
selalu ada dalam nafasku…
dalam dzikirku memanggilMu…
khusuk dalam ibadahku…
dan mengkaji lagi ajaranMu…
Maafkan karena aku pernah mengesampingkanMu…
menjadikan egoku bebas berlarian…
meneriakkan kemerdekaan…
membebaskan hasrat
yang justru seharusnya dikekang…
aku selalu merasa rapuh…
tapi apa yang membuatku begitu?
karena aku jauh dariMu…
rengkuhlah aku dalam pelukMu lagi
bimbinglah aku menuju jalanMu…
aku berjanji…
takkan lagi berlari dariMu…
Malam ini… bisa jadi kali terakhir aku bisa melihatmu, dengan sebenar-benarnya perwujudanmu, bisa kulihat, kuraba, kudengar, bahkan kurasakan kau memang ada… aku bisa melihat lagi tahi lalat di kelopak matamu yang selalu bergerak saat matamu berkedip… aku tak yakin esok kan kutemui lagi tahi lalat itu… dan mungkin takkan lagi bertemu karena keyakinanmu tuk kembali menjalani kehidupan religius itu ternyata memang ada dan kurasakan juga menjemputku… memang benar katamu harus kupupuskan saja semua harapan ini sekarang juga karena ‘suatu saat’ yang selalu kunanti itu takkan pernah ada, jika tidak dimulai hari ini… dan tentunya apa yang kita lakukan jelas-jelas tidak dibenarkan menurut keyakinan kita masing-masing, aku merasakan nafasmu tidak lagi berhembuskan syahwat… melainkan do’a yang tulus… baru kali ini ada seseorang berdo’a untukku… dihadapanku… kau genggam tanganku dengan keyakinanmu kau berterimakasih kepada Tuhan karena tlah Ia pertemukan kau denganku… meski apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang salah tapi ternyata pertemuan ini mampu membuka mata hati kita… terima kasih atas do’amu yang indah… meski keyakinan kita berbeda, aku bisa merasakan bahwa do’a itu tulus dan menguatkanku, malam ini aku berjalan tegak meninggalkanmu tak perlu berjalan mundur tuk terus melihatmu hingga titik terjauh seperti yang selalu kulakukan, tetapi aku yakin akan langkahku meninggalkanmu, dan itu adalah langkah terbaik selama hidupku… kita meninggalkan masing-masing dari kita karena kekuatan yang ada, karena niat baik tuk merubah diri, memperbaiki hidup kembali dalam kehidupan religius dan tuk seterusnya semoga kedamaian hati kan terus tercipta, sehingga tak perlu lagi gejolak ini diperturutkan, mungkin masih tersisa semacam rasa cinta, tetapi rasa sebagai insan manusia yang memang harus saling mengasihi, bukan hasrat yang harus diburu.
Wajarkah jika suatu hari aku ingin mendengar kabarmu? tak perlu harus bertemu… melalui beberapa pesan tlah cukup bagiku… mungkin saat kau menikah nanti, aku kan sangat bahagia bisa memberikan ucapan selamat tanpa kuharus merasa kecewa dengan keputusanmu karena memang tak ada dasar untukku kecewa… aku kan datang dengan rangkaian do’a, kau pasti berhasil membina rumah tangga yang kau impikan, menjadikannya rumah tempatmu berteduh, beribadah, berbagi kasih dengan sebenar-benarnya kasih seperti yang digariskan kodrat alam… dan pastinya aku kan mengikuti jejakmu… Jika kemarin aku masih terus merasa kurang… ingin selalu dekat, berbagi kasih dan menyimpan banyak harapan padamu, saat ini lugas kusampaikan bahwa aku tak perlu lagi berkeinginan seperti itu karena baru kusadari bahwa apa yang selama ini kucari bukan semata tuk berbagi, melambungkan hasrat dan saling memuaskan diri, tetapi dukungan merubah diri yang justru datangnya dari seseorang yang benar-benar kusayangi, dan tak lain adalah dirimu, sehubungan keluarga dan sahabat justru tak mengetahui keadaan yang sesungguhnya… aku tak bisa membahas bahkan meminta dukungan yang kumaksud, aku tak bisa memeluk bunda dan mengeluhkan betapa lelahnya aku menjalani kecenderungan ini… karena jika ia tahu justru mungkin kan menyakitkan baginya, apalagi untuk meminta dukungan itu… aku harap kau memakluminya jika semua keluhan tertumpah dipelukmu, bahwa rasa sayangku bermuara padamu, tapi tentunya rasa sayang ini kan berubah menjadi rasa sebagai insan… sesama mahluk tuhan yang memang harus saling mengasihi… aku kan melupakanmu sebagai kekasih… tapi aku kan terus mengenangmu sebagai pribadi yang sanggup menjembatani aku dengan kehidupan religiusku lagi… meski keyakinan kita berbeda aku tlah banyak belajar darimu… untuk selanjutnya aku kan mengkaji sendiri keyakinanku… terima kasihku atas dukungan ini… aku ikhlas melepaskanmu… terbanglah dengan kepak terbaikmu… aku tak perlu lagi menunggumu, karena malam ini sayapku mulai tumbuh dan aku bisa melayang melintasi ufuk dengan arah yang berbeda tapi tetap pada satu tujuan, kembali menuju langitNya…
[kuharap keinginan ini bukan hanya keinginan sesaat, tetapi selamanya… ternyata keyakinan itu memang ada, bukan hanya untukmu, tapi juga untukku dan aku mensyukurinya…]
Saturday, November 20, 2004
Akhirnya… segala kebimbanganku terjawab juga… saat mentari baru saja menyapa bumi… saat sinarnya baru saja tiba di ujung rerumputan melelehkan embun pagi yang bergulir diatas bebatuan seperti waktu yang bergulir begitu saja membawa sebuah pesan yang tiba di genggaman…
“Kamu pernah bilang akan mendukung terus aku untuk berubah kan? Aku dengar firman Tuhan yang makin menguatkan aku tuk berubah, aku putuskan tidak akan menemuimu lagi, kuharap kamu mendukungnya, tapi kita kan bisa tetap kontak lewat sms atau email, tolong hargai keputusanku lagi pula aku sudah penuhi permintaanmu dengan tidak pergi tanpa beritahu kamu, aku juga berharap suatu waktu kamu juga berubah dengan segenap kekuatanmu, tolong jangan berargumen lagi tentang keputusanku ini.”
Aku masih menerawang langit tuk temui artinya…
aku harus bahagia dengan keputusan ini…
ironisnya justru aku merasa sedih,
tiba-tiba aku merasa sepi…
entah mengapa?
Apa karena pesan yang sampai begitu sangat tiba-tiba?
Ataukah karena aku tak cukup bersiap-siap akan kedatangan pesan ini dalam waktu dekat? Aku tak perlu berkata-kata selain balasan “Selamat” akhirnya lugas kau sampaikan pesan ini… walau sesungguhnya masih banyak harapan yang ingin kubagi bersamamu… akhirnya harus kutumpahkan begitu saja, tercecer dimana-mana… aku tak bisa lagi bermanja dengan tegarmu, tak bisa lagi memeluk tegapmu, tak bisa lagi mengecap manis senyummu, hanya sedikit kecewa terhadap waktu yang terlalu tergesa2 begulir… aku masih ingin bersamamu… teringat akan tulisanku sebelum ini, yang penuh dengan keinginanku meyakinkanmu, justru malah membuatmu berputar arah… keinginan merubah diri, yang sempat terlupa saat bersamaku, yang memang menjadi cita2mu lama… sebelum mengenalku… dan sekarang tibalah waktu itu menjemputmu… kembali dalam kehidupan religius yang penuh dengan kedamaian… jika berkenan aku ingin sampaikan ini…
Terbanglah menuju terangNya
aku kan menjadi angin dibalik sayapmu
tapi jika kau rasa lelah…
terlalu deras badai yang membuat sayapmu terkilir
dan tak sanggup mengepak lagi
singgahlah sementara….
karena aku tetap menjadi dahan
tempatmu berteduh…
aku kan mengobatimu
hingga kau mampu melayang lagi
dan aku kan kembali menjadi angin dibalik sayapmu…
jika kau masih merasa ragu akan keputusanmu, aku disini… tak pergi kemana-mana lagi... karena aku tak mampu berpaling darimu sebelum kulihat kau benar-benar jauh melayang menjadi titik terkecil dan lebur dalam terangNya, semoga keyakinan kan tetap ada untukmu… hingga ku merasa kuat tuk perlahan melangkah mundur menjauh darimu… atau mungkin aku kan selamanya tetap disini, sendiri menatap langit… dengan segenap keyakinanku menantimu kembali.
“Kamu pernah bilang akan mendukung terus aku untuk berubah kan? Aku dengar firman Tuhan yang makin menguatkan aku tuk berubah, aku putuskan tidak akan menemuimu lagi, kuharap kamu mendukungnya, tapi kita kan bisa tetap kontak lewat sms atau email, tolong hargai keputusanku lagi pula aku sudah penuhi permintaanmu dengan tidak pergi tanpa beritahu kamu, aku juga berharap suatu waktu kamu juga berubah dengan segenap kekuatanmu, tolong jangan berargumen lagi tentang keputusanku ini.”
Aku masih menerawang langit tuk temui artinya…
aku harus bahagia dengan keputusan ini…
ironisnya justru aku merasa sedih,
tiba-tiba aku merasa sepi…
entah mengapa?
Apa karena pesan yang sampai begitu sangat tiba-tiba?
Ataukah karena aku tak cukup bersiap-siap akan kedatangan pesan ini dalam waktu dekat? Aku tak perlu berkata-kata selain balasan “Selamat” akhirnya lugas kau sampaikan pesan ini… walau sesungguhnya masih banyak harapan yang ingin kubagi bersamamu… akhirnya harus kutumpahkan begitu saja, tercecer dimana-mana… aku tak bisa lagi bermanja dengan tegarmu, tak bisa lagi memeluk tegapmu, tak bisa lagi mengecap manis senyummu, hanya sedikit kecewa terhadap waktu yang terlalu tergesa2 begulir… aku masih ingin bersamamu… teringat akan tulisanku sebelum ini, yang penuh dengan keinginanku meyakinkanmu, justru malah membuatmu berputar arah… keinginan merubah diri, yang sempat terlupa saat bersamaku, yang memang menjadi cita2mu lama… sebelum mengenalku… dan sekarang tibalah waktu itu menjemputmu… kembali dalam kehidupan religius yang penuh dengan kedamaian… jika berkenan aku ingin sampaikan ini…
Terbanglah menuju terangNya
aku kan menjadi angin dibalik sayapmu
tapi jika kau rasa lelah…
terlalu deras badai yang membuat sayapmu terkilir
dan tak sanggup mengepak lagi
singgahlah sementara….
karena aku tetap menjadi dahan
tempatmu berteduh…
aku kan mengobatimu
hingga kau mampu melayang lagi
dan aku kan kembali menjadi angin dibalik sayapmu…
jika kau masih merasa ragu akan keputusanmu, aku disini… tak pergi kemana-mana lagi... karena aku tak mampu berpaling darimu sebelum kulihat kau benar-benar jauh melayang menjadi titik terkecil dan lebur dalam terangNya, semoga keyakinan kan tetap ada untukmu… hingga ku merasa kuat tuk perlahan melangkah mundur menjauh darimu… atau mungkin aku kan selamanya tetap disini, sendiri menatap langit… dengan segenap keyakinanku menantimu kembali.
Wednesday, November 10, 2004

[m]enghitung bintang satu-satu, sesukar meraba lelikuan sikapmu, berkali diri ini terpaksa jatuh pada jurangnya bimbang dan asa yang tercecer sempat bertanya...
[J]ika boleh kuungkapkan…
Aku lelah…
tertalu lama menunggu
terpaku pada bimbang hatimu…
akankah sesuatu yg kutunggu
membuatku lega…
ataukah sebaliknya…?
kuingin waktu segera berlalu
menjawab segala anganku…
semoga jawaban terbaik
adalah jalan terbaik
tuk kita lalui…
“aku setia menunggu…”
Tuesday, November 09, 2004
……ini kan sangat berarti sekali bagiku, mungkin kan cukup kekuatan bagiku melepaskan diri darimu, aku kan terjaga merentangkan sayap dengan segenap harapan baru, bahagia melepaskanmu dengan cita-cita agung menemukan calon mempelai wanitamu… bahkan tak sungkan-sungkan aku telusuri galaksi tuk menemukan putri mimpimu dan membawa kehadapanmu… aku pun selalu berharap kan berakhir sepertimu, tapi entah kapan… tuk memikirkan hal itu sering kali membuat otakku karam terbawa arus prahara, aku kan sangat siap membantumu dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaikku merancang lembar kartu undanganmu, pastinya kan indah sekali hasil karya yang tercurah tulus teruntuk kekasih hati… aku membayangkan kau kan sangat bahagia ditengah kerumunan orang-orang yang kau sayangi, pasti senyummu kan terlihat lebih indah dengan pancaran mata takjub menggandeng calon mempelai wanitamu, tentunya kau melupakan aku saat itu juga… aku tak mungkin datang pada peristiwa sakral itu…tak kan sanggup bagiku menyimak ikrarmu tuk menjalani hidup berdua selamanya, dalam keadaan suka maupun duka, sampai maut memisahkan… jika boleh sedikit aku membayangkan perasaan calon mempelai wanitamu, dengan gaun putih berhiaskan bintang-bintang kecil yang kau pinjam dari angkasa, dihadapan altar berhiaskan titian bunga surga… pastinya ia bersedia menerima kebahagiaan yang kau ikrarkan… auramu kan terbit dari langit hatimu memancarkan kebahagian pagi itu… aku selalu membayangkan itu… mungkin aku sedikit cemburu, tapi tak cukup dayaku mengingkari itu… bisa jadi beberapa tahun mendatang aku kan sangat bahagia mendengar berita anak-anakmu lahir dari rahim istrimu… pasti mereka lucu-lucu berlarian kesana kemari mengajakmu bermain bola atau rumah-rumahan, memeluk dan menciumi pundakmu seperti yang sering aku lakukan, aku selalu berharap bisa memelukmu lagi seperti kerinduan anak-anakmu setelah seharian kau lelah bekerja… tapi entah kapan…? menciumi tengkukmu yg wangi dan mendengar sedikit tarikan udara disela-sela gigimu lagi… entah kapan…? berharap banyak usapan lembutmu di punggungku yang menyembuhkan… entah kapan…? Aku hanya bisa berharap… dengan sebenar-benarnya harapan bisa lagi bersamamu… aku sendiri ragu akankah aku bisa melayang meninggalkanmu, atau kan menunggumu dengan setia di belantara hari yang berwarna kelabu… karena aku lelaki kecil setiamu… tak kan sanggup ku meninggalkanmu… akankah bisa kulalui detik angkuh yang terasa cepat berlalu bersamamu lagi, sebelum kau benar-benar menemukan calon mempelai wanitamu? tapi saat ini yang kuperlu hanya satu… pelukan sepuluh menitmu dan izinkan kuberharap bahwa ini bukan pelukan terakhirmu…Kirana kecil berlarian dengan kaki kecil, tangan kecil dan harapan kecil, ia menangis dengan darah berceceran di kakinya, beberapa menit lalu nalurinya berteriak mengajaknya berlari karena gonggongan anjing tetangga yang memburu, kejadiannya begitu cepat, kaki kecilnya rapuh menyentuh dinding penopang perdu yang daunya keriting lucu… tulang keringnya menganga, dagingnya putih tersayat tak segera mengeluarkan darah, tak kuasa ia pun berlari mencari pelukan bunda, darah baru mulai menitik membuatnya lega bercampur ngeri, dengan sabarnya bunda membersihkan luka menganga, mengobatinya dengan ciuman seraya membesarkan hati lelaki kecilnya…Kirana kecil hanya sedikit terisak dengan sisa air mata yang tak perlu lagi mengalir… cukup terobati dengan sentuhan tangan ajaib seorang bunda… hanya nafasnya masih belum terlalu kuat tuk menarik dan mengelurakan udara layaknya tarikan nafas ceria… tapi telah cukup banginya menerima kasih yang menyembuhkan ini, ia baru saja menyadari bahwa Tuhan baru saja berdialog padanya, memberikan beberapa peringatan agar tak terlalu jauh bermain, agar lebih berhati-hati dalam setiap langkah yang dijejakkan, memberikan kesadaran penuh bahwa kasihNya mengalir melalui tangan seorang bunda, dan mengajarkan cara berterimakasih atas perhatian, kesabaran dan dukungan seorang bunda… Kirana kecil berjanji kan lebih berhati-hati dalam melangkah, ia tak perlu lagi berlari saat anjing tetangga menggonggong, karena itu hanya salakan yang tak berarti apa-apa, dengan menghadapi justru ia kan belajar mencermati ketangguhan jiwanya…
[kejadian masa kecil yang baru saja aku cermati… tentunya kan banyak sekali episode kisah “kirana kecil” selanjutnya]
Wednesday, November 03, 2004
Terima kasih atas daya ciptamuindah sekali buatku melagu
sadarkan hati bahwa semesta peduli
tapi tetap tak mau mengerti
terlebih jika teringat trauma itu lagi…
kisah bocah yang mendamba sapa
bentangkan langit tebarkan tanda tanya
keinginan yang mestinya tak tersirat
adalah pena yang menulis di lembar jagad
keinginan yang lagi-lagi menggeliat
adalah tsunami yang tak terlihat…
kecenderungan tuk selalu ingin bersandar
dalam klimaks dimensi yang sama
adalah jiwa yang merentangkan sayapnya
terlalu rentan bagiku mengitari sepi
yang meradang lukai hati
karena kan terasa perih sekali
jika harus ku terbang sendiri
salahkah kuberbagi…?
salahkah mendamba sapa
yang dulu tak pernah ada…?
karenanya aku selalu bertanya
pada semesta yang menganga
jika boleh kubersandar…
jika boleh kuberharap…
“Semoga sapa kan tetap ada…”
[ijinkan aku meminjam pedulimu…
Merentangkannya di blog pribadiku…
Karena ini indah sekali
so… “Welcome to DELTAKIRANA.blogspot.com”]
mengapa harus berlari
dalam tangispun bintang
masih menyisakan air matanya
pada mata langit
mengapa harus berlari
mencari gelap yang tak pasti
mengapa harus menyepi
saat sinarmu masih beumur pagi
hidup tak perlu meluap dengan duka berkawat
hidup tak perlu pengap dengan materi memuncak
hidup tak perlu kalap dengan syahwat menjilat
bulan tahu dukamu teramat sangat
mentari iba melihat galaumu menggeliat
naumun dalam rimba galaksi pasi
semua dendam kanibalisme berarti darah
kuat memamah siapa yang lemah
kalau tak seia berarti menderita!
jangan lagi berlari
kemanapun rimba kau tapaki
sinarmu tetaplah abadi
jangan lagi pernah berlari
melawan rahasia hati
cahaya sedihmu pun masih punya arti...
Lalu tak kuasa ku bertanya ttg Mata Langit yang begitu indah…
Aku pun menuliskan…
Masih bertanya... ttg Mata Langit yang kau cipta...
masih bertanya... hingga larut dalam hampa...
mestinya tak terbesit... seperti wangi surgawi
yang menjadi rahasia Ilahi...
Kadang kunikmati saja apa yang hasrat minta...
tapi hati berteriak...
jiwa berlari...
sedangkan syahwat tak mau pergi...
Tak pernah satu kata pun terucap keinginan
seperti ini...
selain keinginan tuk menjadi diri
sendiri...
apakah ku salah menjalani hari ?
jika ternyata apa yang kujalani tak semestinya aku
lalui?
apakah ku harus terus berlari...?
ataukah justru ku harus mengakhiri hari ?
Ternyata masih ada pribadi yang peduli... ini adalah hati yang tertulis dari seorang Fradhyt Fahrenheit... seorang sahabat di jagad maya... [Friendster.com] makasih...
MATA LANGIT (fradhyt)....pada Delta yang [b]iasa
Bintang di langit tak berkelamin 'kah
cahayanya tajam membelah malam yang gulita
auranya pirang mencuri pandang di setiap bisikan yang benderang
dan maknanya mengkristal disetiap bayang-bayang...
Mata langit selalu sendiri dalam jutaan sepi
terus berlari dalam perjalanan cahayanya
tanpa lintas tepi bagai luka mencari galau makna
yang pernah henti mencari
Bintang di langit memang tidak berkelamin 'kah
hingga tak sanggup mengingkari malam
yang memberinya kilau bagi semua oase kehidupan
dan akhirnya lebur dalam fatamorgana pagi yang menyakitkan...
Kalau kau ingin setubuhi bintang lain
dalam beban rindumu yang menusuk-nusuk bagai tenggelam
dalam permainan pedang memecahi obsesi malam ...
mungkin sia-sia!
Bulan beludru kan mentertawakanmu,
mentari 'kan berseteru mengajarimu
bagaimana bermain cinta sebenarnya
dalam gelap gulita dan peluh penuh luka
Bintang memang tidak berkelamin 'kah
saat kesepianmu berontak diantara jutaan kilau bintang lain ...
begitu pilu mencabik sepi ....
begitu perih menghujam galau yang membawamu
lenyap menjemput angkasa pagi yang kau benci...
Hmmm...
bintang begitu indah...
begitu dipuji...
namun selalu sendiri...

