Friday, December 31, 2004
[a]khir tahun....mmmm...
ga ada ide buat nulis...
nulis harapan di ujung tahun?
ga berani...
ada sih beberapa yang terlintas...
tapi kayaknya ketinggian...
terlalu melambung...
ga yakin ma diri sendiri
& males aja kalo cuma sekedar menuhi halaman ini
yang jelas...
"Proteksi diri" itu penting...
jangan sampe jatuh lagi pada jurang hati seorang pribadi
yang akhirnya justru buatku terpuruk...
sulit berdiri lagi... apalagi berlari...
yup... met tahun baru bagi semua...
tahun baru... hari baru... semangat baru...
Wednesday, December 29, 2004
[s]aat kusimak beberapa tragedi yang terjadi akhir-akhir ini, hanya satu yang terlintas... "Pastinya Tuhan tengah berdialog dengan kita..."demi keagungannya, aku tak boleh berprasangka bahwa ini teguranNya, sesungguhnya dibalik setiap kejadian, tersembunyi hikmah yang cukup untuk menyadarkan kita betapa agungnya Ia, betapa kita hanya bermanja-manja dengan waktu yang diberikanNya, tak perduli pada kesalahan yang sengaja atau pun tak sengaja kita susun, bahkan sedikit pun tak pernah menyadari bahwa kesalahan itu berakibat fatal,
mungkin tidak hari ini...
tapi besok...
lusa
lima tahun atau sepuluh tahun mendatang...
bahkan lebih jauhnya di kehidupan kita yang paling mendatang...
Jika ini adalah cobaan... selayakanya kita mampu belajar lebih banyak lagi agar kita lebih kuat menghadapi dan tak perlu berlari...
tapi...
jika ini adalah amarahNya...[ampuni aku berprasangka] selayaknya kita menyadari kesalahan demi kesalahan yang pernah kita lakukan... dan berhenti pada satu titik, dimana kita bisa merenungi betapa kita tak perlu lagi membagi kesalahan kita pada sesama... saling mengingatkan untuk tidak mengulangi lagi... dan tak henti mendekatkan diri berdialog denganNya...
Solo belum lagi meredakan air matanya, kini Aceh meluapkan tsunami hati, menelanjangi daratan seolah tak peduli pada air mata negeri yang tak pernah mengering... [Ini bukan khutbah ataupun siraman rohani, hanya menulis sedikit apa yang baru saja terlintas...]271204
Thursday, December 16, 2004
[J]ika saja hatiku terbuat dari pahatan logam atau piranti yang lebih keras,tentunya aku tak kan pernah luluh oleh sapa pribadi baru,
tapi Sang Maha Perancang merealisasikannya dengan konsep design sedemikian rupa,
hingga tak mungkin bagiku menepis segala yang membuatku luluh…
aku menemukanmu… ada…
aku menemukanmu… nyata…
tidak dalam bayang langit-langit kamar,
ataupun dinding bergradasi suram,
melainkan senyawa hidup
dalam kehangatan berbeda
yang bisa kusentuh melalui ujung jariku
karenanya…
aku menemukanmu… ada…
[tak bisa kupungkiri, “kau mempesona” >15-16 Dec 2004, 05.30 pm-05.30 am]
Thursday, December 09, 2004
[m]aaf…aku tak menepati janjiku…
saat kukatakan…
“Ini adalah tulisan terakhir untukmu”
…adalah keraguan saat kuucapkan itu…
dan ternyata benar…
aku tak bisa berhenti menulis untukmu
sama seperti aku tak bisa berhenti mengingatmu…
tak ada peluang bagiku melupakanmu…
atmosfir Jakarta begitu angkuh
tak mau membantuku tuk membunuhmu
aku tak peduli apa lagi yg kau katakan…
jika kau menginginkan aku merubah hidupku
bantulah aku…
jika kau tak peduli
aku bisa lebih tak peduli mengusikmu lagi
Jika ku tak peduli… akankah ku mati?
Jika ku mati… akankah kau peduli?

[m]aaf aku tak menepati janjiku
Tuesday, December 07, 2004
[p]astinya kau rasakan juga apa yang kurasa, tapi imanmu terlalu kuat tuk tetap bertahan, tidak sepertiku... aku tetaplah aku yang dulu, rapuh dalam ketakberdayaanku... terpuruk dalam keindahanmu... menginginkanmu lebih dari sadarku...Thursday, December 02, 2004
Apakah salah jika kuizinkan sapamu mengetuk alam khayalku lagi? Aku hanya manusia bodoh jika terus membiarkannya begitu... tapi aku juga manusia biasa dengan keterbatasan daya juang yang pada saat-saat tertentu bisa saja pertahananku rapuh… jangankan ego yang memang ingin melambungkan lamunan hingga ke angkasa, bahkan logika selalu menghadirkan malaikat yg meminjam auramu mengitari langit-langit kamarku… aneh… apakah suatu saat aku kan benar-benar gila karena tak henti kerja otakku memikirkanmu lagi…? apakah bentuk pelarianku tak tepat hingga tak cukup tekadku melupakanmu…? semakin cepat kuberlari, nadiku memburu mengeja namamu… belum lagi keinginan yg terus berteriak menggedor-gedor keyakinan agar goyah membiarkanmu memenuhi syarafku lagi… aku ini seorang gila… menggilai seseorang yang harusnya tak kugilai, ataukah ini yang namanya setia…? Setia pada sesuatu yang gila? setia merindukan keras kepalaku yang ada padamu…Hhhh… berat mengucapkan selamat tinggal untukmu… beberapa hari lalu sepertinya kusanggup menopang beratnya, siap tuk segera pergi darimu saat itu juga… tapi mengapa pagi ini sepertinya mentari tak mau berbagi? meneguhkan hatiku dengan sinarnya, menguatkan imanku memupuskanmu seketika… gilllaaa… aku memang gila… harusnya kubunuh saja perasaan itu sebelum rasa itu menyakitiku lagi… karena kuyakin aku terluka oleh perasaanku sendiri, bukan oleh siapa pun… tapi inilah sisi manusiawi yang hadir sewajar mungkin tanpa bisa kupungkiri.

