Monday, January 31, 2005


[h]ey... hendak melukis apa? langit berwarna ungu, ataukah dinding hati yang berwarna kelabu...? Posted by Hello

@ 2:23 PM |

[d]i stasiun HATIMU...

...ada keinginan menengok kembali hari kemarin... meyakinkan hati bahwa kamu baik-baik saja disana, mungkin aku kan menembus stasiunmu lagi, berharap aku melihatmu berdiri... sendiri tentu saja...
tapi ada keinginan tuk melihatmu ga lagi sendiri... saat kumelintas dihadapanmu kau berpeluk dengan seseorang yang tentunya bisa lebih membuatmu nyaman... pastinya aku ga perlu lagi berharap, memupuskanmu seketika dan berkeyakinan penuh tuk tetap sendiri dan ga lagi menembus stasiun hatimu...

[kenapa KisFM lagi-lagi memutar lagu kita? menstimulasi otakku dengan romansa yang berputar seperti cengkraman CD yang ga berkesudahan... hhhhffff... payahh!!!]

@ 1:37 PM |

Friday, January 28, 2005


[p]ada JASADNYA kurebahkan RUHku... Posted by Hello

@ 3:22 PM |

[s]endiriku... ternyata punya arti baru...
ga perlu mencumbu waktu
apalagi memburu...
kan tiba waktuku menumbuhkan tunas itu lagi...
saling berbagi...
tidak untuk saat ini...
tapi nanti... pasti...

@ 9:35 AM |

[p]etualangan SEMESTA

PEJAMKAN mataku... ikuti petualangan semesta, mereka bicara kepadaku melalui rambu-rambu yang selalu membuatku tersipu… hanya saja aku tak begitu menanggapi keberadaan mereka, menganggap mereka terlalu biasa…
ikutilah kata mereka... awan yang menangis, bulan yang tersenyum, mentari yang setia, aurora yang mengedipkan matanya, dan tentu saja langit dan tanah yang menjadi paduan hitam putih yang elegan... tidakkah indah memuji keberadaan mereka dengan mendendangkan sebuah lullaby yang tercipta begitu saja berkolaborasi dengan iringan orchestra alam... tiupan angin... deburan ombak... titik embun yang jatuh ke sungai... lengkingan serangga... kicau burung dan gemerisik daun yang menari... Sang Maestro tentunya kan tersenyum menikmati pertunjukan sederhana ini... mudah saja kan bersahabat dengan alam?
Aku ingin malam ini berada di tengah pertunjukan, sepanggung dengan kawanan kunang-kunang yang beterbangan menyalakan lampunya… kan mudah bagiku melantunkan harmoni puji-pujian tuk semesta… hanya saja rutinitas yang sesungguhnya hanya menyita sebagian besar waktuku yang mengharuskan aku terpaku pada kelelahan yang berkelanjutan, lupa pada daratan yang kupijak dan langit yang menaungi… bahkan lupa sama sekali pada udara yang kuhirup…menyedihkan…
lalu apa kabarnya semesta di tahun-tahun mendatang jika aku hanya memperhatikan kesibukan pribadi? apa kabarnya putri angsa yang berperan sebagai penari latar pada pertunjukan itu? akankah ia tetap menjadi putri ataukan terbang bersama luka yang tak kusadari saat ia mengaduh? pedih membayangkan kesendirian, tanpa kehadiran mereka… untunglah saat ini aku masih punya waktu, kan sempat bagiku menghaturkan terima kasih… meninabobokan ruh alam dan menyapa dimensi yang menjadi langit bagi rembulan merebahkan tubuhnya…
selamat malam semesta…
selamat malam Tuhan…
terima kasih telah membuat malam ini begitu indah…

@ 8:59 AM |

Thursday, January 27, 2005


[m]et datang... anggap rumah sendiri... Posted by Hello

@ 2:43 PM |

[s]egitiga yang KUCIPTA

TENGOKLAH hatiku... musim hujan buatku selalu merindu... sadar dan kecewa jadi permainan seperti sepasang dadu yang kulempar pada bentangan realita, sadar saat dadu menunjukkan angka yang sama, kecewa pada berkali-kali lemparan yang tenyata menunjukkan angka berbeda...
"Hhh... terlalu jauh perbandingannya..."
lebih banyak menikmati kecewa daripada menyadari realita...
"Sudahlah... janji kemarin harus kutepati"
nadi untuk pertama kalinya menggema memenuhi ruang yang diikuti oleh serangkaian aktifitas lainnya... detak jantung... aliran darah... bahkan gendang telinga secara fungsi ikut mendengarkan detailnya, aku yang berada didalamnya kagum atas fungsi kerja itu semua... Tuhan... begitu agungnya daya ciptaMu, terlebih fungsi hati ini adalah maha karyaMu yang tiada berbanding dengan apa pun... mengamini setiap sudut yang kutemui, berharap banyak mereka berfungsi dengan baik sekali hingga hitungan usiaku lebih dari setengah abad... amiin...
Salah jika lagi-lagi kuinginkan kelahiran diriku kembali... reinkarnasi dalam jiwa yang sempurna....
"Di dunia ini mana ada yang sempurna? bodohnya aku..."
kan lebih masuk akal jika kuinginkan kelahiran cara pandangku yang baru... visi... dan misi yang tak cacat... rencana perbaikan diri yang memicu terjadinya rekonstruksi besar-besaran dimana-mana hingga wujud segitiga jiwaku kan benar-benar nyata dan ruhnya kembali menyinari aura...

antara Jasmani...

Nurani...

dan Naluri...

sebuah 'segitiga' system yang menjadi landasan perangkat Local Area Network dalam jasadku...
DELTA yang dulu tak ada kini hadir ditengah peradaban
DELTA yang dulu berdiam diri meruncingkan tombak siap melawan penindasan
DELTA yang sengaja kucipta kan tetap setia... mengabdi hingga akhir hayat...
apakah salah menciptakan tokoh seperti itu? fantasy masa kecil yang kini menjadi sisa keping-keping memori yang tertinggal tapi cukup kuat melekat.... cuplikan heroik Google V, Megaloman, Voltus atau bahkan Kura-Kura Ninja dan masa kejayaan Si Unyil... yang kini tergali lagi berkaitan dengan kelahiran indera penciuman yang baru [seperti kucing yang mengendus kantung plastik karena tahu didalamnya terdapat ikan asin...] keping-keping itu menyulut tungku inspirasiku tuk segera menciptakan kekuatan ini...
"Bukankah kekuatan antagonis harus dilawan dengan kebijakan protagonis...?"
cukup masuk akal kan?
semoga Tuhan kan mengiyakan jika kuambil langkah pembelaan diri seperti ini... melahirkan diriku kembali pada realita yang tak mau tahu sejauh mana aku merindu... dan... kebahagiaan yang ingin kugali seperti penemuan 'segitiga'ku ini selayaknya mampu menjadi freon dalam ruang angan yang kususun seperti lemari berventilasi...
[kan terasa sejuk saat ku berada didalamnya..."hhh... office hour yang terasa aneh..."]

@ 2:17 PM |

Wednesday, January 26, 2005


[h]mmm... bad idea... Posted by Hello

@ 3:24 PM |

Thursday, January 20, 2005

[s]elamat... akhirnya kau RAYAKAN juga

…selamat untuk diri sediri, merayakan hari jadi kesendirian lagi setelah sekian lama melibatkan hati pada perseteruan asmara yang melelahkan… ha… ha… aku lega… bisa tertawa lagi… percaya bahwa aku masih bisa melanglang buana dibalik awan yang menggantungkan banyak harapan, ketika kubuka mata… surprise… betapa indahnya harapan itu berkilauan, panorama 3 dimensi yang membuat sakit mataku memandang silaunya… sempat menepis hampir jatuh lagi tapi sayapku masih sanggup bertahan menopang kepercayaan diri… mengepak liar tapi tetap terarah… meski ga tahu tepatnya hendak kemana, ga ada kompas atau peta yang memandu sama sekali selain eksplorasi naluri … selamat… mestinya aku dapat penghargaan sebagai lelaki tegar sejati… berkali-kali jatuh pada jurang hati tapi sanggup bangkit lagi… berkali-kali telanjang… ganti kulit, karena yang lama koyak dimangsa rakusnya prahara… memungut lagi satu-satu asa yang tercecer dimana-mana… menyusun kepingan puzzle yang ga lengkap lagi, ompong seperti biji jagung yang pertumbuhannya terhambat… yang kutahu ada beberapa kepingan yang masih tersembunyi atau sengaja dipinjam oleh beberapa pribadi,
simpan saja kepingnya…
bawa saja pergi…
ga perlu dikembalikan…
aku ga mau lagi…
ga perlu muak atas penyalahgunaan fungsi hati… ga perlu berkumur-kumur lagi setelah memaki… relakan segalanya karena kesendirian tercipta tuk aku nikmati… toh kesendirian bukanlah sesuatu yang menjijikan…
SELAMAT sekali lagi…

(lagi happy siang ini, tapi ngapain juga aku dengerin ‘all by my self’ ya? wong guendheng…!)

@ 1:32 PM |

Wednesday, January 19, 2005


[c]rash... crash... cover SUPERNOVA PETIR edisi revisi... sudah beredar... Posted by Hello

@ 4:26 PM |

[s]urga SESAAT #2

(lanjutan cerita di pagi hari…” nungging_pada sebuah laptop”… sekarang ga nungging lagi hanya membelakangi malam yang berwarna ungu terasa dingin setelah kehujanan disusul menenggelamkan pantat di taringnya bantal Tazmania… geli…)

MEMBACA lagi harapan lalu yang menguasai masa kecil merindu tak jera bertanya pada ranting-ranting kurus dibalik nako berdebu dan mengintip mentari jauh dibalik gorden beludru… lelaki kecil menitipkan rindu… menginginkan harapan itu terwujud, tak henti hingga detik ini…sequel keinginan yang belum terjawab… sedangkan kamu sudah tertinggal jauh di stasiun sebelumnya, tapi kemana pergiku auramu menguntitku, selalu... kau temukan aku, mencuri-curi harapan lagi... aarrrghh... paparazzi hati...

“aku merana…”
“ya… kamu sudah mulai gila… dan itu masalahmu, bukan masalahku…”
“aku ingin pelukan yang menyembuhkan dari sosok asing yang tak pernah kukenali…”
“bukankah keluargamu selalu memelukmu saat kamu menangis dulu…”
“yup… bunda selalu melakukannya untukku…, aku cukup bahagia, tapi aku mau sosok selain bunda…”
“cukupkan bagimu pelukan itu… kamu ga perlu lagi mencari…”
“bukan hanya pelukan… aku mau dukungan…”
“aku mendukungmu… keluarga mendukungmu… talenta mendukungmu…. semua mendukungmu… dan tentunya Tuhan sangat-sangat mendukungmu…”
“pasang surut… kadang-kadang… semaunya… ga ada yang akurat…”
“itu menurutmu saja kan? sedetik pun dukungan tak pernah pergi darimu… takkan pernah pergi”
“lirihnya datar… nyaris tak terdengar… aku tak pernah merasa dukungan seperti itu”
“dan kamu tak pernah berusaha tuk mendengar… “
“karena aku sekarat dari awal lalu… itu yang ku tahu…”
“itu masalah terberatmu… bangunkan jiwamu… kepakkan sayap tuk terbang karena terlalu indah menyia-nyiakan angkasa…”
“aku ingin melukisnya… menjadikan kanvas abadi… masterpiece hidup tuk orang-orang terkasih… tapi ga ada yang kudapat selain mengaduh… aku ga bakalan married apalagi punya anak, terlalu rumit tuk membayangkan hasrat yang ga ada tuk itu semua…”
“aku prihatin… ga ada peluang untukku mendobrak bingungmu… aku turut berduka”
“hmm ga perlu berduka seperti itu…”
“c’mon… hidupkan suasana… the magnificent seven… ajak kamu berpetualang”
“aku mau berpetualang hasrat saja… ONS… cinta semalam, besok lupa… menghitung jumlah pori-pori partnerku dengan lidah… memamah biak bibir atas dan bawah... menggigiti kuping hingga berdarah… ga perlu romantic foreplay, ga perlu lah…”
“kamu memang gila…”
“sudah biasa… biasa tidurin BF orang… biasa manfaatin ajakan syahwat… biasa menguliti norma dengan hasrat tak biasa…”
“apa ga terpikir merenungi diri tuk menghentikan aksimu…?”
“sering… tapi semata kulakukan bukan untuk sekedar fun… tapi terlanjur membiasakan diri saling mengasihi, mencumbui seseorang yang kini ga ada lagi… ga ada pelukan malam hingga pagi dan aku merasa kehilangan… stress berkelanjutan… aku hanya peduli pada hatiku… ia selalu meratap tiada henti… sepi…”
“masih banyak cara tuk berbagi hati…”
“yup… salah satunya ONS, menciptakan lagi surga sesaat...”
“orang gila…psikopat...”
“aku tahu… tapi aku seorang gila yang normal… hidup menuntutku seperti itu… daripada aku terus mamaki Tuhan…”
“kamu tak seharusnya berprasangka lagi”
“tapi aku ga tahu harus bertanya pada siapa lagi… psikiater? specialist? kyai? dukun? ga ada yang bisa menjawab…”
“ssstt… simpan maki-makimu tuk esok hari… aku mengerti…”
“ya sudah… aku mau tidur…”
“ga baik tidur dalam keadaan marah… redakan dulu amarahmu…”
“ok… “
Minum air putih... narik nafas dalam-dalam… meluk Tazmania… membaca lagi beberapa pesan dari sahabat… senyum-senyum sendiri… narik selimut... berharap mimpi bersetubuh dengan ibu kost... ha??? bad idea... maksudnya pelatih tennis kemarin... hiks!!!

@ 2:27 PM |

Monday, January 17, 2005


[b]egitu banyak debu di cerminku yang belum sempat aku bersihkan… masalah demi masalah menumpuk disana… belum lagi kesalahan yang ga sengaja aku susun berkaitan dengan usaha menyelesaikan masalah, tanpa permisi menumpang lahan disana
 Posted by Hello

@ 4:11 PM |

[h]anya KEINDAHAN yang tak bisa KUNIKMATI

….ini adalah kali pertama, aku menulis untukmu…
(setelah aku renungi pesan terakhir kamu… betapa aku menyadari jalinan kita ga bisa dikatakan sebagai hubungan biasa… dan aku juga takut berharap...)


MASING-MASING dari kita tentunya punya masalah yang mau ga mau harus kita hadapi, ga mungkin debu di cermin kan hilang dengan sendirinya kan? Saat kita bersolek tentunya refleksi diri kita kan asing di mata kita, apalagi orang lain yang melihat pantulan kita… bisa jadi mereka heran, memandang keji bahkan tertawa melihat penampakan kita… aku sendiri kadang merasa aneh mendapati pemandangan seperti itu… begitu banyak debu di cerminku yang belum sempat aku bersihkan… masalah demi masalah menumpuk disana… belum lagi kesalahan yang ga sengaja aku susun berkaitan dengan usaha menyelesaikan masalah, tanpa permisi menumpang lahan disana, sering kali ku tulis… ingin bertanya, tapi ga tahu harus bertanya pada siapa, buih ombak belum lagi meninggalkan pantai, ombak lain datang menelanjangi pasirnya… sesungguhnya aku lelah menghadapi semua…
aku ingin muntah…
menghabiskan muak hingga berdarah…
tak apalah…
asalkan setelah itu lega bisa kurasa…
kita belum apa-apa, meski merasa usia hubungan kita tlah cukup dawasa… tak lebih dari menikmati jaringan buah karya intelijensi manusia… sambungan jarak jauh… fasilitas mail… phone… sms… ga lebih dari itu, tapi hubungan emosional yang tercipta…
Dahsyat…
apa aku sendiri yang terlalu menanggapi ini dengan berlebihan…? sepertinya tidak… karena kamu unusual…abnormal… gokil…dan itu yang membuatmu special… saat kamu menulis sesuatu yang gila aku menikmatinya walau pada awalnya aku tak menanggapi, tapi kamu berhasil meyakinkan kegilaan itu sebagai sesuatu yang tak salah dan cukup nyaman tuk dinikmati… saat kamu menulis harapan… adalah hamparan angan yang kurasa juga… saat menolak sesuatu bisa jadi aku merasakan luapan penolakanmu juga, ada rasa takut akan jalinan ini seperti takut yang kurasa… takut merasakan pedihnya jika harus berpisah lagi… (mungkin masih terlalu jauh…)
bahkan untuk memulai saja tenyata kita ga sanggup, kita takut gagal lagi… memang terlalu indah hubungan kita dan aku ga rela jika harus memulai dengan sesuatu yang biasa, walau kenyataannya tunas-tunas itu mulai tumbuh lagi, pastinya pertumbuhannya kan terhambat karena rasa takut kita sendiri…
apakah kita kan membiarkannya sia-sia?
apakah kita terlalu paranoid tuk memulai???
pernahkah kita mencoba menyiramnya perlahan, memberinya kesempatan tuk tumbuh selayak mungkin dengan memberinya pupuk? Apa perlu sedikit eksperimen atau semacam riset khusus sebenarnya hubungan kita untuk apa? sekedar say goodnite di ujung malam yang telah pagi? atau berbagi keluhan di monitor? aku selalu menahan diri untuk ga terlalu menanggapi, bahkan ga peduli sama sekali, tapi ternyata aku terlalu rapuh tuk berusaha menganggapmu biasa… sumpah… kamu terlalu istimewa untuk kuanggap manusia… jika aku gombal seperti ini, pasti karena kamu… jika aku merayumu… tentulah penyebabnya juga kamu… sepertinya ada mentari lain disisi hati menggantikan sinar yang hampir redup…
aku mau mentariku bersinar terang sekali…
biarkan aku merasakan terikmu…
bakar aku… hingga ku mati…
bahkan kematian yang kurasa saat ini adalah kematian yang entah untuk ke berapa kali… jiwa yang menganga menanti sesuatu yang mampu menarikku kembali pada realita… jika bukan sinarmu pastilah aku sudah mati dari dulu… terima kasih atas jarimu yang selalu menulis tentang keyakinan… aku mau hidup lagi… meski ga yakin bisa melewatinya dengan siapa… atau lebih baik menyudahimu sampai disini -usai begitu saja- jika ternyata kita tak bisa berbagi rasa…

“Seharusnya masalahmu adalah masalahku, begitu juga sebaliknya…”

aku ingin membantu membersihkan cerminmu…
aku ingin menembus kilaumu…
dan….

aku ingin saat kau bercermin

ada...

aku....

disampingmu…

tapi saat ini… “Biarkan aku menghilang beberapa saat…” menghambakan diri pada egoku kembali…membumbung tinggi tanpa arah kemana kan pergi… membebaskan pikiran, hati bahkan perasaan dari kilas balik kelahiran hubungan kita… dan ga perlu menyesali maki-maki atau sumpah serapah yang kusampaikan dulu, yang justru membuat kita makin erat menyampaikan pesan… ga perlu lah…
cukup menganggapmu sebagai jambrud yang tak bisa berbuat apa-apa saatku tenggelam…
hanya keindahan yang tak bisa kunikmati…
bahkan disaat-saat terakhir…
saat aku sekarat…
hampir mati lagi…

“Kita belum apa-apa babe…ironisnya aku menganggap kamu complete… kamu gokil tapi wise sekaligus… simple but complicated & aku ga bisa lupa man…”
OMG… mendung jam 5 sore dan ‘come to love you-broker t. jones MP3’ buat radangku kambuh lagi… aku lupa kalo aku benci lagu mellow… apa aku harus pura-pura lupa kalo aku pernah benci kamu juga? Sebenarnya aku benci untuk membencimu…saat ini.

@ 11:30 AM |

[s]urga SESAAT

...saat yang tepat meninggalkanmu jauh di keping memori terakhir, kereta segera melaju dengan cepat, aku didalamnya bersenandung, entah mendendangkan apa... Kissing a fool lagi hah? atau Love will keep us alive? lebih tepatnya gumam kumur-kumur tak bersusila... tak perlu digubris lagi sesat keinginan yang bermunculan, tak perlu lagi berharap yang tak perlu... gunakan siasat pengampunan diri dengan konsentrasi tertinggi....
“sudah... maafkan saja egomu... “
“aku ga mau...”
lagi-lagi kontradiksi...
“maafkan saja...”
“untuk apa? ke arah kebaikan?”
“yup... tentunya...”
“ga perlu lah... aku bisa mati untuk memaafkan diri...”
“kamu sudah sekarat... dan kamu sendiri ga tahu... orang aneh...”
“sekarat dalam bimbang... salah dalam melangkah... dan entah apa lagi...”
“termasuk sekarat moral... hah???”
“he... he...”
“manis ucapanmu, tak semanis pikiranmu... binal...”
“aku jalang... bukannya binal...”
“same case...”
“bukankah jalang lebih attractive dibandingkan binal?”
“orang lab bilang perbandingan senyawanya 1:1”
“pastinya aku benar-benar binal dan jalang... “
“selamat... anda memasuki kawasan tak berpakaian....”
“he... he... telanjang?”
“lebih dari itu... tak ada peraturan,etika, norma, apalagi agama... “
“karena Tuhan lebih memilih diam atas tindakan kita...”
“Beliau bosan... sepertinya...”
“apakah Tuhan sering Bad Trip... ha?”
“yup...”
“ataukah Ia menunjukkan sifat agungnya... sayang kepada kita melebihi mahluk ciptaan lainnya?”
“bisa jadi... kita pribadi terpilih...”
“sok... jangan GR gitu donk...”
“terbukti kan?
“ya... aku pernah dengar ini dari paparanmu... seringkali... dan aku saja bosan mendengarnya apalagi Tuhan...”
“ Tuhan... ampuni kami.... pantaskah kami tinggal di surgaMu? Karena sumpah aku ga mau masuk neraka... apalagi bersama teman-teman kami jin kafir, iblis dan setan yang berwajah seram... please... aku ga mau masuk neraka”
“do’amu terkabul... nak..., bukankah surga selalu dekat saat kita bersama?...he...he...”
“ itu kan maumu... emang surga hanya sebatas ejakulasi...?”
“itu juga maumu kan? surga dadakan... memuncrat sesaat... dan berakhir dengan dekapan semalam suntuk.... telanjang...?”
“pastinya kita pencipta surga amatiran...”
“ yup... dan itu mudah sekali diciptakan”
“bukan firdaus...”
“;-D wakakak......”

[cerita masih berlanjut..., pagi hari... ngetik sembari nungging pada sebuah laptop seorang teman > sejati, maunya!]

@ 11:22 AM |

Saturday, January 15, 2005


[i]t's time to go away... [from u] Posted by Hello

@ 8:42 AM |

Friday, January 14, 2005

[J]ika masih ada WAKTU

..... aku ingin menguji diri dengan membelenggu keadaan, memeluk diri tak lagi dalam kepenatan, membasuh auraku dengan air wudhu... aku ingin menemukan Tuhan ada dalam jiwaku, tapi sejauh ini ku mencari, hanyalah kesesatan yang kuhadapi...
aku sesat...
jauuuhhh... sekali...
bahkan tuk melihat jejak dibelakang aku tak bisa, apalagi menemukan jalan kembali... aku ingin cahayaMu terangi pandanganku... aku ingin berbicara padaMu tapi tak tahu harus mengawalinya dengan apa? apakah dengan air mata...? sepertinya telagaku tlah kering dari awal lalu... tak bisa mengisak hanya dengan penyesalan, karena memang aku tak pernah merasa menyesal... justru lebih sering mengeluh, mengaduh bahkan menuduh bahwa semua ini adalah selera humor Tuhan yang tinggi... seringkali Tuhan menyapa dengan memberikan talenta luar biasa atau rasa berbagi yang kumiliki... tapi tak pernah terpikir sekalipun tuk mensyukuri... tak pernah menyadari betapa Ia sangat menyayangi... jika aku sendiri tentunya aku tak benar-benar sendiri, selalu ada Tuhan yang menemani tapi sedetikpun aku tak pernah menyadari...
Terbuat dari apakah hati ini...?
aku selalu bertanya karena perbuatanku terlalu keji jika benar hatiku hanya terbuat dari segumpal darah...

@ 2:50 PM |

[t]ak banyak yang ku tahu tentang CINTA
hanyalah ketulusan hati tuk menyapa
dan kelembutan nurani tuk meraba
karena kutahu...
CINTA tak pernah memaksa

@ 12:56 PM |

Thursday, January 13, 2005

[e]gois...

"Ssstt... jangan bilang aku penulis donk...", kalo aku penulis tentunya langit-langit kamar kan jatuh bergemuruh, begitu juga gayung dan peralatan dapur bakalan protes tak logis... aku menulis untuk diri sendiri, hanya monitor yang hampir sekarat dan neon 9 watt yang tahu apa yang kuperbuat... aku menyampaikan ide bersama Kissing a Fool-Michael Bubble, ga banyak daya yang bisa ku hantarkan... ga banyak cerita yang bisa jadi lentera... cuma sedikit kisi-kisi gagasan yang kuharap bisa buatku tegar... atau lamunan yang ga pernah terealisasi hanya menjadi susunan kalimat ga berarah... aku merindukan masa-masa sebelum umuruku 25... dulu aku tegar... mampu menghadapi diri dengan berani, tidak menyia-nyiakan talenta yang dipercayakan-Nya, menjelajahi waktu di jalan-jalan berlampu, membiarkan api semangat mengobarkan hidup, benar-benar menikmati waktu luang dengan menggugah hari... kini... seolah semua berputar arah... statement yang salah dan ga beralasan... judgement pada diri sendiri yang ga pada tempatnya... keseharian yang melelahkan karena perasaan bersalah dari setiap tindakan... membebani diri dengan memaki... terobsesi tuk jadi seseorang yang sempurna... jelas-jelas semuanya salah... ga penting... aku jadi seorang yang pesimis... kepercayaan diri yang terkikis... perasaan sepi yang ga bisa kuhindari, menginginkan tangan untuk membantu, atau meminjam bahu untuk kusandarkan bebanku... dulu itu tak perlu... tapi waktu dengan kasarnya berlalu... tak sempat bagiku memaafkan diriku, justru perilaku yang lantas diburu menorehkan dosa yang mengadaptasi dari terapi penyembuhan diri berjalan sejajar dengan kesenangan sesaat,
"Egois sekali ternyata aku ini...! menyembuhkan diri dengan menikmati kesenangan sesaat?"
lugas membangga-banggakan kebodohan dan mengutipnya disini, karena kupikir sulit membalikkan telapak waktu untuk membuatnya putih lagi seperti dulu...
selanjutnya aku ingin mengutipkan do'a...
jika "suatu saat" itu tiba...
semoga aku yang ada dalam tubuhku ini mampu bertahan dalam ketakberdayaan...
tegar dalam ketiadaan...
Amiiin...

@ 4:38 PM |


[b]erandai-andai... selalu buatku tersipu... apakah aku sudah mulai gila? ataukah aku mulai bahagia?  Posted by Hello

@ 1:25 PM |

Monday, January 10, 2005

[a]da saat dimana aku ragu… menjalani ini seperti mengingat mimpi semalam, menyusun kilas balik keping demi keping menjadi cerita sedetail mungkin tanpa kronologis yang akurat dan itu yg membuatku tetap merasa ragu…
Aku ragu…
apakah aku benar-benar telah menjalani ini?
apakah hanya egoku saja yang menempatkan aku pada posisi ini?
apakah naluri selalu mengepakkan sayap-sayapnya, melepaskan diri dari norma tuk terbang tinggi?
ataukah justru nurani yang selalu memberontak mengatakan tidak?
pastinya aku seorang buta, meraba-raba arah… tanpa tongkat dan hanya bisa merangkak dari satu sudut ke sudut lain… mengharapkan sinar yang mampu membuka mataku, ataukah aku hanya seorang bisu, ingin bertanya tapi tak cukup daya tuk bicara… cukup dalam hati saja…? nelangsa dalam bimbang yang berkepanjangan… menyimpan amarah yang entah untuk siapa? berprasangka pada Tuhan? Sepertinya tak perlu lagi, aku sudah terlalu banyak memakiNya… dan ternyata Ia terlalu bijaksana tuk dimaki, aku pernah membuktikannya beberapa kali…
tapi…
untuk menikmati hidup seadanya… semampu kekutanku… hanyalah mencuri-curi kesempatan tanpa tahu seberapa cukupkah aku menikmati caraku, mengingat sedikit pun aku tak berhak tahu sisa waktuku yang hanya sekali ini…
aku selalu berharap Tuhan berbaik hati menyampaikan isyarat, hingga aku bisa berikrar membatasi waktuku dan berlalu menegaskan hati dengan kata “cukup”.

@ 4:50 PM |


[s]aatnya bertanya tentang sang waktu... saat yang tepat untuk membiarkan segalanya berlalu... jangan terpaku... apalagi membisu... berteriaklah jika kau mau... Posted by Hello

@ 4:46 PM |

Saturday, January 08, 2005

[p]astinya aku selalu tergoda lagi... dan lagi... tapi sejauh ini imanku cukup kuat untuk tidak memperturutkan semua inginku, meski atmosfir Jakarta terlalu lembut membelai… menanggalkan pakaianku… telanjang berlarian… melupakan sejenak labirin kasat mata lalu mengibarkan bendera putih lagi… tapi aku tak boleh menyerah begitu saja… aku harus bertahan… aku harus bertahan…!!! Tak perlu kutulis betapa beratnya mempertahankan ini… cukuplah kupakai lagi helai demi helai kain dan menutupi auratku… aku teringat lagi kekasihku yang menginginkanku berubah… menyusun kembali sisa-sisa perjuangan dulu… kembali pada kehidupan religius… ingin kusampaikan betapa beratnya, tapi tak perlu lah… cukup sudah usahaku melupakannya… setidaknya aku masih bertahan… sendiri… tak perlu penggantimu lagi, meski keinginan berhari selalu menyulut untuk menemukanmu dilain pribadi… tapi untuk saat ini biarkan saja begini… luka hampir saja reda, terobati dengan sendirinya, larut bersama akhir tahun yang ingin kulupa begitu saja, meski sempat bahagia beberapa saat… sesungguhnya aku berduka
“Hhhhh…. tahun kemarin begitu istimewa, tapi aku ingin melupakan semua… andai saja aku amnesia… mungkin aku kan lebih bahagia”

@ 2:33 PM |

[k]emana pergimu...?
lagi-lagi meluluhkan sebagian asa milikku
meski arusmu selalu bermuara disini...
adalah kepenatan yang kau susun untukku
aku menginginkanmu lebih dari sadarku...
merindumu beribu-ribu waktu yang lalu
hingga galaksi tak cukup ruang lagi
untuk kujadikan kanvas melukis auramu..
sudahlah...
cukup disini saja....
diam...
tak perlu lagi bermanja-manja dengan segala inginku..
diam...
tak perlu lagi menghadirkan keras kepalamu…
apalagi menunggumu..
tak perlu...

@ 2:31 PM |

Monday, January 03, 2005


[s]aatnya tiba... menyimpan segalanya di kedalaman palung hati... "Selamat Tinggal 2004" Posted by Hello

@ 4:07 PM |